Rabu, 13 Juni 2012

MANUSIA=MANUSIA


Bulan tampak tak sempurna dilangit yang menghitam, lampu-lampu sudah memberi jalan pada semua orang, terdengar suara orang-orang yang tak cukup mengganggu diluar rumah, ditemani dengan radio kecil. perempuan ini menciptakan ketenangannya, tak terlalu spesial malam ini bagi Reni. Wanita kurus yang berumur 20 tahun tak menghabiskan malam ini untuk apapun, tidak menonton tv, tidak juga mengerjakan tugas kuliah. Dengan menutup pintu dari dalam kamarnya tak diganggu dengan kakak-kakaknya yang sangat menyayangi dia. Wajar saja dia perempuan sendiri diantara tiga saudaranya.

Dengan suara penyiar radio dan alunan musik pop mellow Reni menghangatkan diri dengan sendirinya, sesekali dia membalas sms dari teman-teman kuliahnya dan teman-teman lamanya. Perempuan dengan sosok yang sangat sederhana ini tidak seperti perempuan lain,  mempunyai kelakuan yang anggun untuk dilirik para ibu-ibu yang mempunyai anak laki-laki dewasa, Perempuan berpendidikan ini tak mau nikah muda, karna menurut Reni hidup masih panjang untuk dijalani. Dengan kesederhanaanya dan kepolosannya yang seperti tak tahu irisan dunia yang lain, yang padahal dia mengetahui tapi tak mau mengikuti.

‘oke selanjutnya akan saya hadirkan lagu yang sempat direquest oleh yoga rumor-butiran debu‘ suara radio terdengar halus di telinga Reni. Merasa nyaman dan waktu sudah memanggil Reni untuk tidur padahal baru jam 9.45 malam. Reni memang tak pernah tidur larut malam, paling malam jam 10 kalau tidak melakukan apa-apa, dan dia pasti memaksa untuk tidur sebelum jam itu, tapi dikecualikan untuk tugas kuliah yang bisa menyita waktu tidurnya.

Sebelum fajar benar-benar menampakkan matanya yang kuning, Reni bangun sebelum waktu shubuh tiba. Disiapkan dirinya untuk menuju rumah pelampiasan, hingga selesai dan pulang. Sembari melakukan aktifitsnya sebagai perempuan yang rajin, dia menyapu halaman rumah yang kotor dengan plastik-plastik dan daun-daun yang berguguran. ‘kenapa semua terjatuh ketanah, bahkan yang terbangpun akan kembali, dan ini membuat kotor’ sambil mengayunkan sapunya ke seluruh penjuru halaman rumah.

Matahari sudah menantang manusia untuk bertebaran. Reni telah ada di  sekolah, mengantar anak dari keponakan ibunya yang masih duduk dibangku taman kanak kanak. Menunggunya dari luar kelas dengan ibu-ibu rumah tangga yang lainnya, dengan sesekali ikut mendengarkan ibu-ibu itu bergosip. Tapi sahabat Reni, Susi, diapun mengantar adiknya disekolah yang sama, sahabat dekat Reni dan satu tempat kuliahan dengan Reni, menghabiskan waktu yang tergolong lama digunakannya untuk berbicara dengan Susi. ‘Ren…’ sapa seorang ibu guru kepadanya. ‘iya bu’ jawab Reni dengan singkat dan jelas. ‘kenapa kamu tidak mengajar disekolah ini pagi hari dan kuliah disiang hari ikut membantu mengajar pada adik-adik taman kanak-kanak’, tersenyum Reni dan menjawab dengan ragu ‘emmm.. sepertinya saya belum mampu bu mengatur waktu saya, takut tabrakan dengan kuliah dan gimana-gimana’. ‘tidak apa-apa, kamukan bisa berusaha untuk mengatur waktumu’ jawab dengan senyuman kepercayaan diberi oleh ibu guru itu. ‘ tapi saya…’ ‘kamu pikirkan dulu saja ya, tidak usah dipaksa’ potong ibu itu sembari meninggalkan Reni dan Susi yang duduk di pojok teras sekolah.

‘kenapa kamu tak mengambilnya? padahal kamu ditawari, kamu cukup pintar dan sabar dengan anak-anak’  celetus Susi dengan semangatnya. Balas Reni dengan jawaban yang menandakan keakrabanya ‘aku belum berani yank, aku masih seperti ini, pribadiku, tingkahku, busanaku, lisanku, masih penuh dengan kekurangan’. ‘iya aku mengerti, jarang-jarang lho yang dapat kesempatan seperti ini’ tutur Susi agar dia berfikir.

***

Matahari siang menancap tajam di atas kepala, udarapun berlarian kesana-kemari takut terbakar, siang ini memang panas, Reni menyiapkan dirinya untuk kuliah, tas dan semuanya telah siap tinggal berpamitan dan berangkat, ‘brrrrttt brrrrtttt’ suara getaran hape Reni. ‘1 message received’. ‘gmn dah siap brngkt to? Aq otw’ sms dari Susi yang telah jalan. ‘oke aq jalan juga’ balas Reni. Bertemu mereka dijalan raya sebelum naik mobil angkot, dari rumah sampai tempat kuliah membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan dengan angkot yang menempuh jarak 32KM menuju kampus.  ‘tumben-tumben kita harinya sama ya yank, kenapa gak setiap hari saja kita pergi bareng’obrol Susi, ‘iya ya yank, jurusan dan jadwal yang beda yang memisahkan kita,hahaha…sampai juga akhirnya, ayo aku masuk dulu, sudah hampir telat ini yank, bye’ seru Reni kepada Susi. ‘ya jangan lari ntar jatuh hlo’ balas Susi.

***

‘hei Ren’ sapa seorang pria dari kejauhan, ‘emm Yoga’ balas Reni, ‘sudah selesai kuliah Ren?lama kita tak ketemu’, ‘oh ini baru saja selesai,nunggu Susi ini, ei banyak perubahan ya yog kamu! Style-mu berubah’. ‘hahaha masak mau monoton seperti smp dulu Ren, kan memang dunia ini selalu berubah, yaudah Ren hati-hati dijalan aku baru mau masuk, oh ya Ren nomer kamu masih yang dulu kan?’ ‘iya masih, aku juga masih ada nomermu’ ‘yowes Ren aku masuk dulu, bye’.

***

Sampai juga sore yang akan mati, sampai juga rumah yang dicintai, setelah isak berujar memendam kenangan yang terjadi di hari yang bersinar, Reni mendekati ibunya yang duduk santai didepan televisi 14 inchi di temani suaminya yang mengepulkan asap-asap kesempurnaan hidupnya. ‘mak aku tadi pagi ditawari untuk ikut ngajar di taman kanak-kanak’, jawab ibu dengan mata yang masih menuju ke televise ‘kamu gimana?’ ‘aku masih belum bisa menerimanya mak,aku masih takut gak bisa ngatur waktu’. Dengan senyum ibunya memandang anak perempuan satu-satunya itu dan berujar ‘kamu ditunggu tugas-tugas kuliahmu dikamar’ ‘hehehe tahu aja mak ini, yadah aku ngerjain tugas dulu’.

‘Tugas, tugas, dan tugas, oh banyaknya’ gumam Reni melacurkan waktunya untuk tugas kuliahnya dimalam ini. Sesekali diselipi dengan balasan-balasan sms dari teman-teman kuliah yang menanyakan tugas ataupun dia yang bertanya tentang tugas itu. ‘oh sudah hampir jam 10 dan tugas belum selesai’ semangat Reni semakin menjalar untuk selesaikan tugas itu untuk kuliahnya. ‘oh sudah jam sebelas, tapi tidak apa-apa demi tugas dan kuliahku besok, demi masa depanku’ dengan semangat pasti dia meninggalkan sebagian waktu tidurnya. Sampai pada akhirnya waktu menunjukkan jam 12 malam lebih 13 menit dan dia tidak kuat dengan rasa ngantuknya dan tertidur diatas kertas-kertas berbatik tinta-tinta masa depan.

***

Dikayuhnya sepeda dengan keranjang didepan sepedanya, dikeranjang itu terdapat tas dan tugas-tugas kuliahnya yang siap dikumpul, dengan hati yang terpancarkan ketenangan dan kesenangan Reni menuju sebuah rumah tempat tinggal cowok pujaan hatinya, Reni hanya berniat melewati rumah itu dan berdo’a ada cowok itu diluar atau dimanapun asal Reni bisa melihatnya. Sebelum melewati rumah itu Reni mendengar suara orang meminta tolong, berhenti Reni ‘siapa yang minta tolong itu ya’ gumam Reni. ‘aku takut‘ langsung dia kayuh sepedanya lagi. ‘tolong…’. Reni pun langsung berhenti lagi dan melihat seorang wanita tua hampir masuk kedalam gorong-gorong air yang cukup dalam, wanita tua itu diselamatkan oleh akar pohon yang berserabutan di dinding gorong-gorong. Reni turun dari sepeda dan mendekati wanita tua itu ‘ya Allah nek’ ucap Reni melihat wanita tua itu dari jarak 5 meter, ‘braaaak’ suara sepeda Reni roboh. Reni melihat kearah sepedanya yang roboh, didapatinya seseorang mengambil tas Reni, dan baru ancang-ancang berlari. ‘tasku’ teriak Reni. ‘tolong nenek dek’ parau suara wanita itu Reni menoleh kearah wanita tua itu dengan cemas, Reni kembali lagi melihat kearah sepedanya ‘tasku, tasku jangan kau bawa…’. Orang itu lari membawa tas Reni, Reni beranjak pergi mengejar orang itu, dua langkah sudah dia meninggalkan tempatnya semula, kemudian dia menoleh kearah nenek itu, nenek itu sudah tidak ada, dia bingung, dia akhirnya balik kearah nenek itu dan mendapatinya sudah dibawah gorong-gorong.

***

            ‘Astaghfirullah’ ucapnya lirih dengan mata merahnya, Reni  terbangun pas waktu subuh menyapanya. ‘ampunilah dosa hambamu ini ya Allah’ do’a Reni menginginkan agar semuanya baik baik saja. Diambilnya air wudhu dikamar mandinya dan pergi shubuh ke musholla yang berjarak 10 meter dari rumahnya. Dalam sujudnya Reni tiba-tiba menangis mengingat tentang apa-apa yang dia lakukan dan dia mimpikan. Sholatpun ditutup oleh pemimpinnya dengan dua salamnya. Reni masih bermuka-muka dengan Tuhannya, Reni berbicara tanpa belas kasihan kepada tuhannya. ‘ya Allah, Kau berikan sebuah jalan menuju lembah surgamu tapi aku tak mengerti. Kau berikan aku sejuta kesempatan tapi aku tak perduli. Aku tak perduli, Aku tak perduli dan lagi-lagi aku takperduli. dengan mimpi-Mu itu kini aku menyadari hidup, menyadari pengabdian, menyadari perubahan, dan menyadari keutamaaan. Kini aku akan menerima tawaran dari guru itu, aku gunakan untuk mengapdi karna ilmuMu bukan karna harta, untuk generasi yang berilmu setelah aku, untuk umat manusia bukan untuk keegoisanku, jika aku mampu menentang jam tidurku untuk mengerjakan tugas-tugas dan itu untuk diriku, kenapa aku tak mampu memberikan waktu-waktu lainku untuk mereka, untuk manusia, untuk ilmu dan untuk perubahan serta kemajuan. Jika aku mampu menentang jam tidurku untuk mengerjakan tugas-tugas dan itu untuk diriku, kenapa aku tak mampu menentang sifat-sifat jelekku, menentang lisanku yang jelek, memperbaiki berpakaianku. Dan jika aku telah siap dengan aturan aturan agamaku, kenapa aku harus mengingkarinya, padahal dalam rahim aku telah menyanggupinya dan kenapa aku harus takut dengan aturan-aturan yang dibuat oleh manusia, aku yakin aku pasti mampu, dan semua itu Demi Perubahan Bukan Pada Untukku Memang, Tapi Pada Manusia-Manusia. Dan semoga aku dapat menjadi contoh yang baik bagi diriku sendiri, dan bagi orang lain, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untukMU ya Raabaku ingin dalam kemenangan, innalil muttaqiina mafaazaa… ”

1 komentar: