Bulan tampak tak
sempurna dilangit yang menghitam, lampu-lampu sudah memberi jalan pada semua
orang, terdengar suara orang-orang yang tak cukup mengganggu diluar rumah,
ditemani dengan radio kecil. perempuan ini menciptakan ketenangannya, tak
terlalu spesial malam ini bagi Reni. Wanita kurus yang berumur 20 tahun tak
menghabiskan malam ini untuk apapun, tidak menonton tv, tidak juga mengerjakan
tugas kuliah. Dengan menutup pintu dari dalam kamarnya tak diganggu dengan
kakak-kakaknya yang sangat menyayangi dia. Wajar saja dia perempuan sendiri
diantara tiga saudaranya.
Dengan suara penyiar
radio dan alunan musik pop mellow Reni menghangatkan diri dengan sendirinya,
sesekali dia membalas sms dari teman-teman kuliahnya dan teman-teman lamanya.
Perempuan dengan sosok yang sangat sederhana ini tidak seperti perempuan
lain, mempunyai kelakuan yang anggun
untuk dilirik para ibu-ibu yang mempunyai anak laki-laki dewasa, Perempuan
berpendidikan ini tak mau nikah muda, karna menurut Reni hidup masih panjang
untuk dijalani. Dengan kesederhanaanya dan kepolosannya yang seperti tak tahu
irisan dunia yang lain, yang padahal dia mengetahui tapi tak mau mengikuti.
‘oke
selanjutnya akan saya hadirkan lagu yang sempat direquest oleh yoga rumor-butiran
debu‘ suara radio terdengar halus di telinga Reni. Merasa
nyaman dan waktu sudah memanggil Reni untuk tidur padahal baru jam 9.45 malam. Reni
memang tak pernah tidur larut malam, paling malam jam 10 kalau tidak melakukan
apa-apa, dan dia pasti memaksa untuk tidur sebelum jam itu, tapi dikecualikan
untuk tugas kuliah yang bisa menyita waktu tidurnya.
Sebelum fajar
benar-benar menampakkan matanya yang kuning, Reni bangun sebelum waktu shubuh
tiba. Disiapkan dirinya untuk menuju rumah pelampiasan, hingga selesai dan
pulang. Sembari melakukan aktifitsnya sebagai perempuan yang rajin, dia menyapu
halaman rumah yang kotor dengan plastik-plastik dan daun-daun yang berguguran. ‘kenapa semua terjatuh ketanah, bahkan yang
terbangpun akan kembali, dan ini membuat kotor’ sambil mengayunkan sapunya
ke seluruh penjuru halaman rumah.
Matahari sudah
menantang manusia untuk bertebaran. Reni telah ada di sekolah, mengantar anak dari keponakan ibunya
yang masih duduk dibangku taman kanak kanak. Menunggunya dari luar kelas dengan
ibu-ibu rumah tangga yang lainnya, dengan sesekali ikut mendengarkan ibu-ibu
itu bergosip. Tapi sahabat Reni, Susi, diapun mengantar adiknya disekolah yang
sama, sahabat dekat Reni dan satu tempat kuliahan dengan Reni, menghabiskan
waktu yang tergolong lama digunakannya untuk berbicara dengan Susi. ‘Ren…’ sapa seorang ibu guru kepadanya. ‘iya bu’ jawab Reni dengan singkat dan
jelas. ‘kenapa kamu tidak mengajar
disekolah ini pagi hari dan kuliah disiang hari ikut membantu mengajar pada
adik-adik taman kanak-kanak’, tersenyum Reni dan menjawab dengan ragu ‘emmm.. sepertinya saya belum mampu bu
mengatur waktu saya, takut tabrakan dengan kuliah dan gimana-gimana’. ‘tidak apa-apa, kamukan bisa berusaha untuk
mengatur waktumu’ jawab dengan senyuman kepercayaan diberi oleh ibu guru
itu. ‘ tapi saya…’ ‘kamu pikirkan dulu saja ya, tidak usah
dipaksa’ potong ibu itu sembari meninggalkan Reni dan Susi yang duduk di
pojok teras sekolah.
‘kenapa
kamu tak mengambilnya? padahal kamu ditawari, kamu cukup pintar dan sabar
dengan anak-anak’
celetus Susi dengan semangatnya. Balas Reni dengan jawaban yang
menandakan keakrabanya ‘aku belum berani
yank, aku masih seperti ini, pribadiku, tingkahku, busanaku, lisanku, masih
penuh dengan kekurangan’. ‘iya aku mengerti, jarang-jarang lho yang dapat
kesempatan seperti ini’ tutur Susi agar dia berfikir.
***
Matahari siang menancap
tajam di atas kepala, udarapun berlarian kesana-kemari takut terbakar, siang
ini memang panas, Reni menyiapkan dirinya untuk kuliah, tas dan semuanya telah
siap tinggal berpamitan dan berangkat, ‘brrrrttt
brrrrtttt’ suara getaran hape Reni. ‘1 message received’. ‘gmn dah siap brngkt to? Aq otw’ sms
dari Susi yang telah jalan. ‘oke aq jalan
juga’ balas Reni. Bertemu mereka dijalan raya sebelum naik mobil angkot,
dari rumah sampai tempat kuliah membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan
dengan angkot yang menempuh jarak 32KM menuju kampus. ‘tumben-tumben
kita harinya sama ya yank, kenapa gak setiap hari saja kita pergi bareng’obrol
Susi, ‘iya ya yank, jurusan dan jadwal
yang beda yang memisahkan kita,hahaha…sampai juga akhirnya, ayo aku masuk dulu,
sudah hampir telat ini yank, bye’ seru Reni kepada Susi. ‘ya jangan lari ntar jatuh hlo’ balas Susi.
***
‘hei
Ren’
sapa seorang pria dari kejauhan, ‘emm Yoga’
balas Reni, ‘sudah selesai kuliah Ren?lama
kita tak ketemu’, ‘oh ini baru saja selesai,nunggu Susi ini, ei banyak
perubahan ya yog kamu! Style-mu berubah’. ‘hahaha masak mau monoton seperti smp
dulu Ren, kan memang dunia ini selalu berubah, yaudah Ren hati-hati dijalan aku
baru mau masuk, oh ya Ren nomer kamu masih yang dulu kan?’ ‘iya masih, aku juga
masih ada nomermu’ ‘yowes Ren aku masuk dulu, bye’.
***
Sampai juga sore yang
akan mati, sampai juga rumah yang dicintai, setelah isak berujar memendam
kenangan yang terjadi di hari yang bersinar, Reni mendekati ibunya yang duduk
santai didepan televisi 14 inchi di temani suaminya yang mengepulkan asap-asap
kesempurnaan hidupnya. ‘mak aku tadi pagi
ditawari untuk ikut ngajar di taman kanak-kanak’, jawab ibu dengan mata
yang masih menuju ke televise ‘kamu
gimana?’ ‘aku masih belum bisa menerimanya mak,aku masih takut gak bisa ngatur
waktu’. Dengan senyum ibunya memandang anak perempuan satu-satunya itu dan
berujar ‘kamu ditunggu tugas-tugas
kuliahmu dikamar’ ‘hehehe tahu aja mak ini, yadah aku ngerjain tugas dulu’.
‘Tugas,
tugas, dan tugas, oh banyaknya’ gumam Reni melacurkan
waktunya untuk tugas kuliahnya dimalam ini. Sesekali diselipi dengan
balasan-balasan sms dari teman-teman kuliah yang menanyakan tugas ataupun dia
yang bertanya tentang tugas itu. ‘oh
sudah hampir jam 10 dan tugas belum selesai’ semangat Reni semakin menjalar
untuk selesaikan tugas itu untuk kuliahnya. ‘oh
sudah jam sebelas, tapi tidak apa-apa demi tugas dan kuliahku besok, demi masa
depanku’ dengan semangat pasti dia meninggalkan sebagian waktu tidurnya.
Sampai pada akhirnya waktu menunjukkan jam 12 malam lebih 13 menit dan dia
tidak kuat dengan rasa ngantuknya dan tertidur diatas kertas-kertas berbatik
tinta-tinta masa depan.
***
Dikayuhnya sepeda
dengan keranjang didepan sepedanya, dikeranjang itu terdapat tas dan
tugas-tugas kuliahnya yang siap dikumpul, dengan hati yang terpancarkan
ketenangan dan kesenangan Reni menuju sebuah rumah tempat tinggal cowok pujaan
hatinya, Reni hanya berniat melewati rumah itu dan berdo’a ada cowok itu diluar
atau dimanapun asal Reni bisa melihatnya. Sebelum melewati rumah itu Reni
mendengar suara orang meminta tolong, berhenti Reni ‘siapa yang minta tolong itu ya’ gumam Reni. ‘aku takut‘ langsung dia kayuh sepedanya lagi. ‘tolong…’. Reni pun langsung berhenti lagi dan melihat seorang
wanita tua hampir masuk kedalam gorong-gorong air yang cukup dalam, wanita tua
itu diselamatkan oleh akar pohon yang berserabutan di dinding gorong-gorong. Reni
turun dari sepeda dan mendekati wanita tua itu ‘ya Allah nek’ ucap Reni melihat wanita tua itu dari jarak 5 meter,
‘braaaak’ suara sepeda Reni roboh. Reni
melihat kearah sepedanya yang roboh, didapatinya seseorang mengambil tas Reni,
dan baru ancang-ancang berlari. ‘tasku’
teriak Reni. ‘tolong nenek dek’ parau
suara wanita itu Reni menoleh kearah wanita tua itu dengan cemas, Reni kembali
lagi melihat kearah sepedanya ‘tasku,
tasku jangan kau bawa…’. Orang itu lari membawa tas Reni, Reni beranjak
pergi mengejar orang itu, dua langkah sudah dia meninggalkan tempatnya semula,
kemudian dia menoleh kearah nenek itu, nenek itu sudah tidak ada, dia bingung,
dia akhirnya balik kearah nenek itu dan mendapatinya sudah dibawah
gorong-gorong.
***
‘Astaghfirullah’
ucapnya lirih dengan mata merahnya, Reni
terbangun pas waktu subuh menyapanya. ‘ampunilah dosa hambamu ini ya Allah’ do’a Reni menginginkan agar
semuanya baik baik saja. Diambilnya
air wudhu dikamar mandinya dan pergi shubuh ke musholla yang berjarak 10 meter
dari rumahnya. Dalam sujudnya Reni tiba-tiba menangis mengingat tentang apa-apa
yang dia lakukan dan dia mimpikan. Sholatpun ditutup oleh pemimpinnya dengan
dua salamnya. Reni masih bermuka-muka dengan Tuhannya, Reni berbicara tanpa
belas kasihan kepada tuhannya. ‘ya Allah,
Kau berikan sebuah jalan menuju lembah surgamu tapi aku tak mengerti. Kau
berikan aku sejuta kesempatan tapi aku tak perduli. Aku tak perduli, Aku tak
perduli dan lagi-lagi aku takperduli. dengan mimpi-Mu itu kini aku menyadari
hidup, menyadari pengabdian, menyadari perubahan, dan menyadari keutamaaan.
Kini aku akan menerima tawaran dari guru itu, aku gunakan untuk mengapdi karna
ilmuMu bukan karna harta, untuk generasi yang berilmu setelah aku, untuk umat
manusia bukan untuk keegoisanku, jika aku mampu menentang jam tidurku untuk
mengerjakan tugas-tugas dan itu untuk diriku, kenapa aku tak mampu memberikan
waktu-waktu lainku untuk mereka, untuk manusia, untuk ilmu dan untuk perubahan
serta kemajuan. Jika aku mampu menentang jam tidurku untuk mengerjakan
tugas-tugas dan itu untuk diriku, kenapa aku tak mampu menentang sifat-sifat
jelekku, menentang lisanku yang jelek, memperbaiki berpakaianku. Dan jika aku
telah siap dengan aturan aturan agamaku, kenapa aku harus mengingkarinya,
padahal dalam rahim aku telah menyanggupinya dan kenapa aku harus takut dengan
aturan-aturan yang dibuat oleh manusia, aku yakin aku pasti mampu, dan semua
itu Demi Perubahan Bukan Pada Untukku Memang, Tapi Pada Manusia-Manusia. Dan
semoga aku dapat menjadi contoh yang baik bagi diriku sendiri, dan bagi orang
lain, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untukMU ya Raabaku
ingin dalam kemenangan, innalil muttaqiina mafaazaa… ”
wow.......
BalasHapus