Minggu, 30 Desember 2012

ORIGAMI


Bersandarkan bantal kecil aku mulai mengingat awal bertemu, mengingat kapan kala itu aku tahu namanya, mulai mengirim sms dengannya. Berujar cinta kepadanya, berpacu dalam kebisingan hidupnya. Mengingat juga kala kita saling menjauh, menghindar, dan lupa segalanya. Tapi dalam lupa itu kita saling mengingat sesuatu, dan merasakan sakit yang kita saling tak mengetahui satu sama lain apakah sakit itu ada!
Tanganku menyentuh sepotong kertas putih di kasurku, masih putih tak ada coretan apapun, tak kusut dan terlihat masih baru, tersenyum aku melihatnya, setidaknya ada yang bisa aku lakukan dengan kertas kecil itu dari pada hanya melamun kelam. “angsa” satu kata hewan yang terbesit dipikiranku, mulailah aku lipat diagonal-diagonal beberapa kali dan lipatan yang lainnya, ingin membuat origami angsa yang aku suka, tak repot ternyata dan aku masih sangat ingat dalam membuat ini.
Tak ada 1 menit angsa itu bertahan, aku ingin membuat perahu kertas. Pertamanya tentu aku lepas dahulu bagian-bagian lipatan yang membentuk angsa kecil, perlahan tapi pasti yang aku lakukan agar tidak menyobek kertas itu. Setelah semua lipatan telah aku lepas, dan menjadi keutuhan kertas tadi, tidak tahu mengapa aku urungkan niatanku untuk membuat perahu kecil itu. Beberapa detik yang cukup lama aku gunakan untuk memandangi kertas itu, sadar dalam lamunan yang telah aku lakukan. Dan ingin aku pandang dan terus aku pandang.

Sabtu, 01 Desember 2012

RAGU


Mulailah reni memainkan kata-kata yang ada didalam hatinya, bergumam sendiri mencari laras yang tepat untuk jiwanya, di depan tv yang sekarang malah menontonnya, berfikir dan bergumam, berfikir dan bergumam dengan sendirinya, tanpa ada satu orang yang memperdulikannya, memang sepi sebenarnya memang tak ada siapapun selain reni yang mulai terpaku pada hati dan pikirannya. Merasa bahwa apa yang telah dilakukan adalah benar,  tidak ada kesalahan yang dia lakukan untuk satu orang atau orang-orang lain, yang dilakukan pada satu orang akan berimbas pada orang lain, dan reni sudah berfikir bahwa apa yang dilakukannya adalah benar, dan akan berimbas kebaikan kepada orang lain.

Reni mulai tepaku dengan perkataan pertamanya, kalau itu memang benar indah, dan jika merasa sakit pasti akan kau temukan keindahan dari rasa sakit itu. Kegelisahan reni ini akan terus dipertanyakannya, kenapa dia gelisah dan sakit, akankah rasa yang indah itu akan muncul tiba-tiba dengan jawaban yang tak disengaja, atau reni sengaja mencari jawaban itu, tapi reni terlalu polos untuk mencari jawaban yang ada. Dia akan emnemukan keegoan yangtidak membuat dirinya nyaman.
Aku yakin aku telah terkurung dengannya, aku yakin aku telah masuk dalam hidupnya, aku yakin pula kalau aku benar-benar dimanjakan olehnya, dimanjakan? Tapi itu hanya beberapa saat saja! Oh bukan sampai saat ini dia memanjakannku dengan suaranya, meski beberapa saat aku tak mendengar suaranya lagi, aku tau dia sibuk dengan pekerjaannya, aku yakin itu, ya sibuk dengan pekerjaannya, tapi aku juga sibuk, dan aku mampu untuk mencoba menhubunginya. Tenanglah reni, tenang.

Menaruh tubuhnya diatas kasur, terdiam beberapa detik yang cukup lama untuk memulai pikirannya kembali, dengan suara tv yang terasa sangat hampa. Tubuh reni mulai bergetar, dia tidak tahu apa yang dia rasakan untuk saat ini. Di beranjak dan mematikan tv yang mencoba menghiburnya. Melemparkan kembali tubuhnya diatas sprei biru yang wangi, sesaat dia menoleh kearah hp-nya seraya menunggu sms yang dia inginkan, terselip pikiran untuk sms orang itu, tapi tak dia lakukan.

Tidak, jangan, aku bisa mengganggu dia, mengganggu pekerjaannya, mengganggu lainnya juga. Tapi benarkah dia sedang bekerja? Iya dia sedang bekerja, dia sedang rapat atau mungkin sedang makan siang, iya dia sedang makan siang, tapi dengan siapa dia mulai makan siang, dengan temannya pasti, ramai, dia tak bisa meninggalkan temannya, dia tipikal orang seperti itu, kalau sudah dengan orang, harus fokus dengan orang itu, ya aku tahu itu. Tapi setidaknya dia memberikanku kabar, kabar, meski hanya dengan pesan singkat aku cukup lega. Dia egois, aku tahu dia egois. Atau aku yang egois, aku tak tahu, dia seakan tidak memperdulikannku.

Huft, aku seakan memikirkan kenyamanan dalam diriku saja, tanpa memikirkan kenyamanannya dalam bekerja, tapi dia juga egois, hanya kenyamanannya yang ia pikirkan, tanpa memikirkan kenyamananku dengannya. Bukankah kita telah berjanji sayank untuk saling mengerti, saling memahami, kau tak mampu memahami aku,kau tak memberiku kabar, itu saja sudah cukup, hanya kabar sudah cukup bagiku. Tapi aku juga telah berjanji akan memahaminya, apakah ini bagian daripada janji itu, memahami dia dalam memberikan kenyamanan bekerja, tapi itu lagi-lagi tidak masuk akal, tapi bisa jadi, aku harus tahu karakterku, aku suka yang berkelanjutan, mungkin ketika dia akan menelponku dia berfikir lagi kalau dia menelponku aku tak akan mau untuk menutup telpon itu, dan itu akan membuat dia tertekan dengan aku dan pekerjaannya, atau dia takut mengecewakanku ketika dia menutup telponnya.

Benar-benar sulit, dan ini sungguh merepotkan, aku. Hemmmm kenapa lagi-lagi aku, aku saja yang aku pikirkan, oh bukankah dia yang selama ini aku pikirkan, ini bagian dari keegoisanku, sebenarnya id kenyamananku yang aku pikirkan, tetapi itu menyangkut dengan adanya dirinya, kenyamananku memang ada padanya. Aku tidak tahu sebenarnya kenyamanannya ada pada siapa! Apa ada pada aku? Aku, ya semoga ada pada diriku ini, tapi ini akan menyiksanya seperti aku yang disiksa oleh perasaanku olehnya. Ah… lagi-lagi keegoisanku muncul, ini antara aku kecil, dengan ego kecil, atau…… aku kecil dengan ego besarku. Semuanya misterius, tentang aku dan jiwa, fisikku dan rohaniku, ini membuat eksistensiku dipertanyakan oleh diriku sendiri, oleh cerita-cerita yang menumpuk dalam jiwaku, hahaha, sekarang aku mulai berfikir sebenarnya aku ini tidak ada, eksistensiku hanya dianggap ada oleh jiwaku. Ah itu membuat diriku gila tentang keadaan yang sebenarnya.

Mungkin selamanya aku tidak akan mengerti tentang ada atau tidak, salah atau benar, dia salah menurutku, tapi dia benar, dia benar, tapi dia salah. Rasa manusia memang berbeda, perbedaan itulah yang membuatku tertarik untuk hidup lebih jauh, dan aku tak menyangka aku menikmatinya, sayangnya itu sangatlah indah, lagi-lagi kembali bahwa rasa itu memang indah, dan aku menemukan keindahan itu, meski sekarang aku perih dan aku sakit. Hahaha! Bodohnya rasa ini! Bodoh pula aku yang mengaguminya, mengagumi rasa ini!