Mulailah reni memainkan
kata-kata yang ada didalam hatinya, bergumam sendiri mencari laras yang tepat
untuk jiwanya, di depan tv yang sekarang malah menontonnya, berfikir dan
bergumam, berfikir dan bergumam dengan sendirinya, tanpa ada satu orang yang
memperdulikannya, memang sepi sebenarnya memang tak ada siapapun selain reni
yang mulai terpaku pada hati dan pikirannya. Merasa bahwa apa yang telah
dilakukan adalah benar, tidak ada
kesalahan yang dia lakukan untuk satu orang atau orang-orang lain, yang
dilakukan pada satu orang akan berimbas pada orang lain, dan reni sudah
berfikir bahwa apa yang dilakukannya adalah benar, dan akan berimbas kebaikan
kepada orang lain.
Reni mulai tepaku
dengan perkataan pertamanya, kalau itu memang benar indah, dan jika merasa
sakit pasti akan kau temukan keindahan dari rasa sakit itu. Kegelisahan reni
ini akan terus dipertanyakannya, kenapa dia gelisah dan sakit, akankah rasa
yang indah itu akan muncul tiba-tiba dengan jawaban yang tak disengaja, atau
reni sengaja mencari jawaban itu, tapi reni terlalu polos untuk mencari jawaban
yang ada. Dia akan emnemukan keegoan yangtidak membuat dirinya nyaman.
Aku yakin aku telah terkurung
dengannya, aku yakin aku telah masuk dalam hidupnya, aku yakin pula kalau aku
benar-benar dimanjakan olehnya, dimanjakan? Tapi itu hanya beberapa saat saja! Oh
bukan sampai saat ini dia memanjakannku dengan suaranya, meski beberapa saat
aku tak mendengar suaranya lagi, aku tau dia sibuk dengan pekerjaannya, aku
yakin itu, ya sibuk dengan pekerjaannya, tapi aku juga sibuk, dan aku mampu
untuk mencoba menhubunginya. Tenanglah reni, tenang.
Menaruh tubuhnya diatas
kasur, terdiam beberapa detik yang cukup lama untuk memulai pikirannya kembali,
dengan suara tv yang terasa sangat hampa. Tubuh reni mulai bergetar, dia tidak
tahu apa yang dia rasakan untuk saat ini. Di beranjak dan mematikan tv yang
mencoba menghiburnya. Melemparkan kembali tubuhnya diatas sprei biru yang
wangi, sesaat dia menoleh kearah hp-nya seraya menunggu sms yang dia inginkan,
terselip pikiran untuk sms orang itu, tapi tak dia lakukan.
Tidak, jangan, aku bisa
mengganggu dia, mengganggu pekerjaannya, mengganggu lainnya juga. Tapi benarkah
dia sedang bekerja? Iya dia sedang bekerja, dia sedang rapat atau mungkin
sedang makan siang, iya dia sedang makan siang, tapi dengan siapa dia mulai
makan siang, dengan temannya pasti, ramai, dia tak bisa meninggalkan temannya,
dia tipikal orang seperti itu, kalau sudah dengan orang, harus fokus dengan
orang itu, ya aku tahu itu. Tapi setidaknya dia memberikanku kabar, kabar,
meski hanya dengan pesan singkat aku cukup lega. Dia egois, aku tahu dia egois.
Atau aku yang egois, aku tak tahu, dia seakan tidak memperdulikannku.
Huft, aku seakan
memikirkan kenyamanan dalam diriku saja, tanpa memikirkan kenyamanannya dalam
bekerja, tapi dia juga egois, hanya kenyamanannya yang ia pikirkan, tanpa
memikirkan kenyamananku dengannya. Bukankah kita telah berjanji sayank untuk
saling mengerti, saling memahami, kau tak mampu memahami aku,kau tak memberiku
kabar, itu saja sudah cukup, hanya kabar sudah cukup bagiku. Tapi aku juga
telah berjanji akan memahaminya, apakah ini bagian daripada janji itu, memahami
dia dalam memberikan kenyamanan bekerja, tapi itu lagi-lagi tidak masuk akal,
tapi bisa jadi, aku harus tahu karakterku, aku suka yang berkelanjutan, mungkin
ketika dia akan menelponku dia berfikir lagi kalau dia menelponku aku tak akan
mau untuk menutup telpon itu, dan itu akan membuat dia tertekan dengan aku dan
pekerjaannya, atau dia takut mengecewakanku ketika dia menutup telponnya.
Benar-benar sulit, dan
ini sungguh merepotkan, aku. Hemmmm kenapa lagi-lagi aku, aku saja yang aku
pikirkan, oh bukankah dia yang selama ini aku pikirkan, ini bagian dari
keegoisanku, sebenarnya id kenyamananku yang aku pikirkan, tetapi itu
menyangkut dengan adanya dirinya, kenyamananku memang ada padanya. Aku tidak
tahu sebenarnya kenyamanannya ada pada siapa! Apa ada pada aku? Aku, ya semoga
ada pada diriku ini, tapi ini akan menyiksanya seperti aku yang disiksa oleh
perasaanku olehnya. Ah… lagi-lagi keegoisanku muncul, ini antara aku kecil,
dengan ego kecil, atau…… aku kecil dengan ego besarku. Semuanya misterius,
tentang aku dan jiwa, fisikku dan rohaniku, ini membuat eksistensiku
dipertanyakan oleh diriku sendiri, oleh cerita-cerita yang menumpuk dalam
jiwaku, hahaha, sekarang aku mulai berfikir sebenarnya aku ini tidak ada,
eksistensiku hanya dianggap ada oleh jiwaku. Ah itu membuat diriku gila tentang
keadaan yang sebenarnya.
Mungkin selamanya aku
tidak akan mengerti tentang ada atau tidak, salah atau benar, dia salah
menurutku, tapi dia benar, dia benar, tapi dia salah. Rasa manusia memang
berbeda, perbedaan itulah yang membuatku tertarik untuk hidup lebih jauh, dan
aku tak menyangka aku menikmatinya, sayangnya itu sangatlah indah, lagi-lagi
kembali bahwa rasa itu memang indah, dan aku menemukan keindahan itu, meski
sekarang aku perih dan aku sakit. Hahaha! Bodohnya rasa ini! Bodoh pula aku
yang mengaguminya, mengagumi rasa ini!