Kamis, 07 Juni 2012

Lebih indah namamu wanita-angin berbisik#4


Langit terkesan membawa kenangan untukku pada siang ini, duduk santai ditemani pemandangan pemain bola amatir berkostum putih abu-abu, udara yang sejuk masih aku rasakan dengan semangat sekolah yang pasti sudah memudar, semester akhir dikelas tiga smk yang aku sadari aku akan hilang dari kehidupan sekolah ini. Pada jam seginipun otak seperti sudah dikuras habis dengan rasa lelah memikirkan pelajaran matematika yang sangat aku benci, ada atau tidak guru pada jam selanjutnya adalah tidak ada, wahai guru apakah kau berani masuk pada jam segini maka aku akan berani keluar. Terlanjur masih menikmati udara yang terbawa sangat sejuk ini.

Gurauan dan candaan teman-teman kelas yang sangat terbiasa aku dengar menjadi bahan hiburan yang memang tak bisa disingkirkan dari keakraban kami, periode kita tergolong periode yang paling banyak disekolah baru ini, kita adalah periode ketiga yang berjumlah 36 terbagi dalam satu kelas, maklum sekolah baru didesa yang tak mengenal arti dari kata SMK. Dari hal itu kekompakan kami tak bisa diragukan lagi. Dengan motto kekeluargaan yang tercipta sejak periode pertama yang menjadi leader kebersamaan adalah si mandrak, dia dan kawan-kawannya member contoh yang sangat apik kepada adik-adik kelasnya, rasa care kepada  adik-adik kelasnya yang sungguh luar biasa, dan itu tertular kepada pihak-pihak guru entah secara sadar atau tidak kita para murid menganggap satu sekolah adalah satu keluarga.

Yang memang sangat kami takutkan adalah masa regenerasi. Banyak murid baru yang pastinya belum tau alur tradisi sekolahnya, dengan sifat dan sikap mereka yang terbawa dari smp-nya yang dari lain lembaga akan cepat merusak tradisi sekolah. Pada semester satu dan dua periode baru, terlihat sangat kentara jarak antara tingkat satu dengan tingkat dua, dan juga tingkat satu dengan tingkat tiga, apalagi para murid cewek yang sepertinya mereka menyimpan kesombongan untuk berbagi. Tapi masalah itu bisa juga terpecahkan dengan adanya kegiatan persahabatan bidang olahraga, seni, keilmuan dengan sekolah lain, mereka beradu menunjukkan kekompakan mereka agar tidak kalah dengan sekolah lain.

Berbicara mengenai SMK, dalam pribadi aku sendiri sangat benci dengan iklan yang ada ditelevisi, mengatakan bahwa SMK siap kerja, ya memang produk dari SMK lebih siap kerja disbanding dengan produk sekolah lai, tapi aku merasa direndakan dengan hal itu, tak ada kata siap kuliah ataupun bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi lagi. Memaknai hal tersebut banyak yang menganggap lulusan smk adalah sebagai pekerja bukan pemikir ataupun konseptor, SMK BISA! Kita bisa memang kerja setelah lulus dari sekolah itu, dan perlu dipahami kita juga bisa belajar lebih tinggi lagi, kita bisa menjadi pemikir dan konseptor serta menjadi leader yang lebih matang tentunya.

Suara nyaring menandakan tinggal dua jam pelajaran saja, dan kita tau satu guru ini tidak mengajar dijam akhir karna kelas sudah dijadikan satu dengan kelas satunya pada jam pagi tadi. Masih saja bercanda anak-anak ini dengan sadarnya bahwa hal ini akan menghilang menunggu batas usia kita di masa SMK. Dengan duduk santai diluar kelas sambil ketawa bercanda dan memandangi murid sekolah aliyah diseberang lapangan sekolah yang cukup luas untuk lari 100 meter bolak balik. Tertampar juga akhirnya aku ditanya dengan vokalis kotak mb’tantri yang menanyakan hubunganku dengan si ika, aku menjawab dengan santai kalau kita baik-baik saja. Aku tahu mereka sudah mengerti kalau vas kembangku telah pecah oleh angin yang aku sendiri tak mau menjelaskan kepada ika angina pa itu. Yang pasti bukan karna cinta dan kepercayaan lain.

Menggugah hal itu aku teringat dengan ‘blackbox’ yang aku belum tahu jawabanya, tapi apalah aku sudah takmemperdulikan kotak hitam itu. Kini aku meniti hari untuk melupakan kembang yang telah kita kubur disamping rumahnya.

“sekarang kita terpisah sangat jauh, tak mengerti dan tak mengenal satu sama lain, menyakitkan bukan merasakan cinta yang kita sendiri tak tahu apa itu cinta, jika kenangan ini ingin kau hapus, maka akan aku hapus juga diriku dalam pandanganmu, mungkin itu akan menjadi yang terbaik untuk kita”

‘Kantin yok genk’ dwi yang usai bermain bola memecahkan lamunanku,
‘Nyoookkkk’ jawabku dengan penuh semangat
Tanpa disuruh pasukan dangerous class merapikan barisan dan menyerang kantin, dipasukan depak ada barok dan adzim, aku dan dwi ditengah dan dibarisan belakang ada iki, ami, dan hadi. dua Deret kursi dalam dikuasai oleh anak SMK, dengan wajah ceria mbak him menyapa kami, dibuatkan kita tujuh gelas es, selang beberapa menit sudah berada didepan kami. Aku duduk satu kursi dengan ami, iki, dan hadi. Sedangkan adzim, barok dan dwi berada dihadapan kami berempat, seperti biasa iki dan ami memainkan jenggot hadi yang mungkin sudah 3 tahun tidak dicukur, adzim duduk dengan berjongkok diatas kursi dengan berbicara dengan emosinya yang meledak ledak, terlihat wajah dwi masih bercocoran keringat yang kemudian dibersikan dengan tangannya, tak ada kancing baju lagi yang mengikat dibaju  dwi dan adzim, ami hanya membuka 3 kancing baju atasnya yang pasti masih merasa gerah dengan bola-bola tadi. Yang masih tampak rapi memang si hadi, baju masih dimasukkan terliahta jelas sabuk yang dia pake berlogo sekolah, dengan celana yang agak keatas sedikit. Tak selang beberapa menit teman akrab si hadi dating dengan stylenya sendiri, “had kon tak golek’I tibak’e nang kene” sapa firman kepada hadi. Kita bercanda sampai jam dhuhur waktu sekolah tiba.

Wanita itu seperti memanggil namaku, aku ingin tahu siapa dia, dia paling terlihat diaantara teman-temannya,aq biarkan sudah dia berjalan meninggalkan timur, aku tahu besok aku akan melihatnya lagi, dengan sinar yang ada!

Berjalanlah sang waktu meski tanpa Tanya dan tanpa ada kode dariku, tanpa pertimbangn dan tanpa melihat manusia-manusia lain. Waktu adalah pedang, waktu adalah uang, kalian benar berkata demikian, waktu bagiku adalah mata, kau pandanglah masa depanmu dengan waktu yang ada sekarang ini. Terlalu cepat serasa waktu ini berlari, kusadari wanita itu baru kelas tiga tsanawiyah (setara dengan SMP) tak terpancar keanggunan darinya memang, terlihat dari jalannya dia sangat gegabah dan egois memandang yang ada, tapi dia penuh warna. Kusangka aku semakin penasaran sama wanita ini. Tak bisa aku menyapanya dalam kondisi yang sangat ramai seperti ini, tak bisa juga karna aku tak tahu siapa dia. Dia adalah wanita dan wanita, dengan dasar ingin perlindungan dan ingin ketenangan, dengan dasar menginginkan rasa tawa ada pada dirinya. Kau jangan berlari dengan kaki-kakimu yang takkan mampu membawa rasa penasaranku itu hai wanita, dan jangan kau memanja karna aku manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar