Langit terkesan membawa kenangan
untukku pada siang ini, duduk santai ditemani pemandangan pemain bola amatir
berkostum putih abu-abu, udara yang sejuk masih aku rasakan dengan semangat
sekolah yang pasti sudah memudar, semester akhir dikelas tiga smk yang aku
sadari aku akan hilang dari kehidupan sekolah ini. Pada jam seginipun otak
seperti sudah dikuras habis dengan rasa lelah memikirkan pelajaran matematika
yang sangat aku benci, ada atau tidak guru pada jam selanjutnya adalah tidak
ada, wahai guru apakah kau berani masuk pada jam segini maka aku akan berani
keluar. Terlanjur masih menikmati udara yang terbawa sangat sejuk ini.
Gurauan dan candaan teman-teman
kelas yang sangat terbiasa aku dengar menjadi bahan hiburan yang memang tak bisa
disingkirkan dari keakraban kami, periode kita tergolong periode yang paling
banyak disekolah baru ini, kita adalah periode ketiga yang berjumlah 36 terbagi
dalam satu kelas, maklum sekolah baru didesa yang tak mengenal arti dari kata
SMK. Dari hal itu kekompakan kami tak bisa diragukan lagi. Dengan motto
kekeluargaan yang tercipta sejak periode pertama yang menjadi leader
kebersamaan adalah si mandrak, dia dan kawan-kawannya member contoh yang sangat
apik kepada adik-adik kelasnya, rasa care
kepada adik-adik kelasnya yang
sungguh luar biasa, dan itu tertular kepada pihak-pihak guru entah secara sadar
atau tidak kita para murid menganggap satu sekolah adalah satu keluarga.
Yang memang sangat kami takutkan
adalah masa regenerasi. Banyak murid baru yang pastinya belum tau alur tradisi
sekolahnya, dengan sifat dan sikap mereka yang terbawa dari smp-nya yang dari
lain lembaga akan cepat merusak tradisi sekolah. Pada semester satu dan dua
periode baru, terlihat sangat kentara jarak antara tingkat satu dengan tingkat
dua, dan juga tingkat satu dengan tingkat tiga, apalagi para murid cewek yang
sepertinya mereka menyimpan kesombongan untuk berbagi. Tapi masalah itu bisa
juga terpecahkan dengan adanya kegiatan persahabatan bidang olahraga, seni,
keilmuan dengan sekolah lain, mereka beradu menunjukkan kekompakan mereka agar
tidak kalah dengan sekolah lain.
Berbicara mengenai SMK, dalam
pribadi aku sendiri sangat benci dengan iklan yang ada ditelevisi, mengatakan
bahwa SMK siap kerja, ya memang produk dari SMK lebih siap kerja disbanding
dengan produk sekolah lai, tapi aku merasa direndakan dengan hal itu, tak ada
kata siap kuliah ataupun bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi lagi.
Memaknai hal tersebut banyak yang menganggap lulusan smk adalah sebagai pekerja
bukan pemikir ataupun konseptor, SMK BISA! Kita bisa memang kerja setelah lulus
dari sekolah itu, dan perlu dipahami kita juga bisa belajar lebih tinggi lagi,
kita bisa menjadi pemikir dan konseptor serta menjadi leader yang lebih matang
tentunya.
Suara nyaring menandakan tinggal
dua jam pelajaran saja, dan kita tau satu guru ini tidak mengajar dijam akhir
karna kelas sudah dijadikan satu dengan kelas satunya pada jam pagi tadi. Masih
saja bercanda anak-anak ini dengan sadarnya bahwa hal ini akan menghilang
menunggu batas usia kita di masa SMK. Dengan duduk santai diluar kelas sambil
ketawa bercanda dan memandangi murid sekolah aliyah diseberang lapangan sekolah
yang cukup luas untuk lari 100 meter bolak balik. Tertampar juga akhirnya aku
ditanya dengan vokalis kotak mb’tantri yang menanyakan hubunganku dengan si
ika, aku menjawab dengan santai kalau kita baik-baik saja. Aku tahu mereka
sudah mengerti kalau vas kembangku telah pecah oleh angin yang aku sendiri tak
mau menjelaskan kepada ika angina pa itu. Yang pasti bukan karna cinta dan
kepercayaan lain.
Menggugah hal itu aku teringat
dengan ‘blackbox’ yang aku belum tahu jawabanya, tapi apalah aku sudah
takmemperdulikan kotak hitam itu. Kini aku meniti hari untuk melupakan kembang
yang telah kita kubur disamping rumahnya.
“sekarang kita terpisah sangat jauh, tak
mengerti dan tak mengenal satu sama lain, menyakitkan bukan merasakan cinta
yang kita sendiri tak tahu apa itu cinta, jika kenangan ini ingin kau hapus,
maka akan aku hapus juga diriku dalam pandanganmu, mungkin itu akan menjadi
yang terbaik untuk kita”
‘Kantin yok genk’ dwi yang usai
bermain bola memecahkan lamunanku,
‘Nyoookkkk’ jawabku dengan penuh
semangat
Tanpa disuruh pasukan dangerous
class merapikan barisan dan menyerang kantin, dipasukan depak ada barok dan
adzim, aku dan dwi ditengah dan dibarisan belakang ada iki, ami, dan hadi. dua
Deret kursi dalam dikuasai oleh anak SMK, dengan wajah ceria mbak him menyapa
kami, dibuatkan kita tujuh gelas es, selang beberapa menit sudah berada didepan
kami. Aku duduk satu kursi dengan ami, iki, dan hadi. Sedangkan adzim, barok
dan dwi berada dihadapan kami berempat, seperti biasa iki dan ami memainkan
jenggot hadi yang mungkin sudah 3 tahun tidak dicukur, adzim duduk dengan
berjongkok diatas kursi dengan berbicara dengan emosinya yang meledak ledak,
terlihat wajah dwi masih bercocoran keringat yang kemudian dibersikan dengan
tangannya, tak ada kancing baju lagi yang mengikat dibaju dwi dan adzim, ami hanya membuka 3 kancing
baju atasnya yang pasti masih merasa gerah dengan bola-bola tadi. Yang masih
tampak rapi memang si hadi, baju masih dimasukkan terliahta jelas sabuk yang
dia pake berlogo sekolah, dengan celana yang agak keatas sedikit. Tak selang
beberapa menit teman akrab si hadi dating dengan stylenya sendiri, “had kon tak
golek’I tibak’e nang kene” sapa firman kepada hadi. Kita bercanda sampai jam
dhuhur waktu sekolah tiba.
Wanita itu seperti memanggil
namaku, aku ingin tahu siapa dia, dia paling terlihat diaantara teman-temannya,aq
biarkan sudah dia berjalan meninggalkan timur, aku tahu besok aku akan
melihatnya lagi, dengan sinar yang ada!
Berjalanlah sang waktu meski tanpa Tanya
dan tanpa ada kode dariku, tanpa pertimbangn dan tanpa melihat manusia-manusia
lain. Waktu adalah pedang, waktu adalah uang, kalian benar berkata demikian,
waktu bagiku adalah mata, kau pandanglah masa depanmu dengan waktu yang ada
sekarang ini. Terlalu cepat serasa waktu ini berlari, kusadari wanita itu baru
kelas tiga tsanawiyah (setara dengan SMP) tak terpancar keanggunan darinya
memang, terlihat dari jalannya dia sangat gegabah dan egois memandang yang ada,
tapi dia penuh warna. Kusangka aku semakin penasaran sama wanita ini. Tak bisa
aku menyapanya dalam kondisi yang sangat ramai seperti ini, tak bisa juga karna
aku tak tahu siapa dia. Dia adalah wanita dan wanita, dengan dasar ingin
perlindungan dan ingin ketenangan, dengan dasar menginginkan rasa tawa ada pada
dirinya. Kau jangan berlari dengan kaki-kakimu yang takkan mampu membawa rasa
penasaranku itu hai wanita, dan jangan kau memanja karna aku manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar