Minggu, 13 November 2016

Serius, Diam


Seperti menunggu waktu berbuka, menguji kesabaran untuk selesai waktu, sebatas ucapan orang disan, jemu dan semakin membosankan, lambat sangat lambat jam ini berjalan, sesering mungkin bertanya lagi “acara apa ini? Ngomongapa dia? Ngoceh-ngoceh tentang kesumpekan padaku”. Sudah masuk pembatas sore, aku yakin dia lelah berbicara lagi-lagi dan lagi, menunggu dia meneguk minuman terakhirnya, dan menutup dengan salam sebagai pertanda kebebasanku. Lagi kota ini, mengingatkan tentang aku dulu dengan dia, istriku bagaimana mungkin kita saling mencinta pada perpisahan yang tak pernah kita bayangkan, memikirkannya saja aku mulai muak, tapi lagi-lagi kenapa kota ini, bayang-bayang cinta kepadamu dan kenangan kepada istriku, hah.. bukankah lebih baik mengingat kesakitan dari pada mendengar kebosanan.
Jam 4 sore, aku telah menghubungi sahabat yang seperti saudariku sendiri, teman seperjuangan dan teman berbisik membicarakan kekonyolan yang tak penting, teman mengandai-andai yang selalu menertawakanku. Tepat 4.15 sore yuli datang dengan senyuman didepan hotel yang telah disewa oleh tim kantor kami, teriaknya kencang ketika melihatku bodoh sedang membaca posisi pesan dia. ‘gimana kabarmu mbut (mbut:panggilan akrab kami), tambah kurus kamu sekarang, perasaan baru 1 bulan gak ketemu’ celometnya memulai pembicaraan kami, dengan jawaban senyum saja aku bicara ke lain topik ‘aku sudah menghubungi nila, nanti kita jemput ke malang, kamu sudah hubungi dia jugakah mbut?’. ‘sudah, tenang aja, tapi aku gak tau kosnya dimana, niatmu kemalangmok datengin cintamu tok hahahaha’. Dengan itu kita turun dari kota batu menuju malang yang penuh kenangan,melaju diatas motor yuli kami sepanjang perjalanan cuma tertawa dan berdendang hati semakin dekat jarak aku dan nila semakin berdetak kencang jantung saya.
Setelah telpon dan kami sampai juga dikos setengah bebas milik nila, dia semakin cantik, memanjakan  pandanganku lagi tentang dia, mencoba berbicara dengan gaya biasa tak salah tingkah, dia tenang dengan mata yang masih penuh cinta, kami saling tau, aku, nila, dan yuli, bagaimana perasaanku terhadap nila, orang-orang juga tau meski dulu aku beristri, akutetap cinta dan takut dengan nila. Sampai aku bercerai dengan problem resmi dari istriku, tapi selalu mencari alasan nila adalah salah satu penyebab kami berpisah, dengan satu fakta aku hilang kontak dengan nila semenjak aku beristri. ‘ayolah kita jalan-jalan, kamu gak sibukkan? Kamu mandi sanalah dulu’ pecahku untuk mengajak pergi. Sesaat cepat dia mandi, langsung saja kita berangkat, nila berbonceng dengan yuli, sesama wanita yang memang seharusnya aku pria sendiri. ‘ayolah kemana kita? Kalian yang tau, mumpung aku ada di malang.’ Sesaat kami ada di kedai pizza, sengaja saya ingin mentraktir anak kos yang selalu kurang uang, hahaha.
Apa entah gerangan, nila tak banyak bicara, dia biasa tertawa bersama juga dengan yuli, tapi dia cenderung diam hari ini, yuli yang super dalam pemecah suasanapun gagal mendapatkan tawa dari nila, sayangnya apalagi aku, merayu untuk mendapatkan tawa dari dia adalah hal yang sulit. Setelahnya saya mengajukan diri untuk kami pergi ke paralayang, tempat penuh kenangan, ada dua momen bagi saya disana, aku dengan istriku dan bicara hati dengan nila. Gerimis dan dingin menemani kita diperjalanan, apa yang meredup semakin meredup, disana nila diam duduk sedang saya berceloteh dengan yuli. Apa kami salah mengajak nila? sedang kita sedang ingin bertemu, sesekali saya teringat kebahagiaan aku dengan istriku, kemudian menangis dan bercerita dalam pelukan dengan nila, apa yang dulu aku ingin tertawa sekarang. Larut kesedihan lebih buruk, sedang saya bersama dengan teman yang super membuat saya bahagia, dan tentu cinta saya  ada disamping saya.
Apa gerangan membuat nila diam dan terus diam, yuli semakin tak mengerti tentang keadaan ini, akupun beberapa kali berusaha menghapus diamnya, sayang hal itu seperti menghapus hitam malam. Semakin aku bertanya padanya, semakin dia tegas menjawab dengan ucapan yang sama ‘aku tidak apa-apa’, kami semakin bingung dengan nila, dia tau bahwa saya datang hanya ingin bertemu, tujuan utama pasti. Tentu bukan untuk mengenang mendiang istriku (yang belum mati) tapi untuk mengingat janji kita, aku dan nila. Huft payahnya, lamunan seperti melamun, tapi pandangan dia tak pernah kosong jika dihabiskan dalam lamunan, kami tak tau apa yang ada dalam benak nila, dingin paralayang batu masih kalah dengan dinginnya sikap diam nila, bukankah lebih baik kamu marah-marah terus kepadaku, dari pada kau diamkan aku, lebih sakit, aku yakin bahkan untuk kita berdua.

Ya sampai juga saya di hotel, membayangkan lagi kegagalan saya berada dikota ini, apa dia? Kenapa dia? Nila apa aku menyakiti atau mengganggu sibukmu? Atau apa? Salahku atau salahmu? Aku tak pernah tahu, mungkin kamu berada pada tingkat sensifitasmu, moodmu sebagai wanita yang menginginkan diam, kamu tak mengerti perasaanku yang jauh ingin bertemu, menunggu momen malang yang selalu saya impikan, hanya untuk kamu, sedang kamu serasa jijik dan diam. Aku selalu mengajak kamu bicara, mengajak kamu tertawa, tapi kamu diam dan diam, apa wanita selalu seperti itu. Mungkin ada salahku yang selalu mengajakmu tertawa, dan mungkin kau mengajakku untuk diam, tapi aq tak memahami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar