Tentu
iyalah, siapa juga yang tak menginginkan pernikahan besar, kebanggaan dan
keinginan setiap orang yang ada, yang hidup, yang punya pacar, bahkan jomblopun
mengandai-andai ingin merayakan pernikahan besar, meski wajah calon belum ada,
mungkin ada tapi disensor, atau ada dengan wajah tetangga mereka sendiri, teman
kelas pas sekolah, atau parahnya lagi para jomblo bayangin mempelainya adalah
pacar atau bojo orang lain. Hal yang
wajar jika setiap kepala orang menginginkan pernikahan besar, sebagai simbol kesuksesan
bekerja mungkin, gengsi juga bisa, ingin sepenuhnya merayakan moment 1x seumur
hidup, meski para cowok berkhayal lagi bahwa ada pernikahan lagi, hahaha,
naluri seorang lelaki. Apapun akan diadakan kalau ingin merayakan pesta
pernikahan, dengan undangan sebanyak-banyaknya, kue sebesar-besarnya, suguhan
makanan yang mahal, berkat, artiannya apa ya untuk kata berkat? Disini adalah
jajanan yang diberikan kepada para undangan saat mereka meninggalkan dunia,
meninggalkan tempat resepsi maksudnya, tempat luas dan megah (megah artian
luas, bukan mega anaknya bu astri, atau mega yang putih dilangit dan jadi hitam
kalau lagi galau).
Apalah,
bahas masalah besarnya resepsi pernikahanku, tak kalah dengan besarnya
pernikahan orang-orang kaya yang ada ditempatku, agak sombong sih, tapi
kesombongan ini tak bisa saya banggakan, bagaimana bisa bangga, la wong saya juga ngutang, bagaimana
tidak hutang! Ini tuntutan dari atik, atau lebih sopannya bu Atik, harus sopan,
karna ini ibunya Ari, Ari itu saya, dan pasti bu Atik itu ibu saya. Beliau
(read bu atik) gengsinya super besar, sebesar upil kering yang tak kamu
bersikan selama 1 bulan, menutupi lubang hidungmu, sebesar itulah gengsi bu
Atik, menutupi lubang malunya dengan gengsi, ‘pokoknya ibu mau pernikahan ini dilaksanakan sebesar-besarnya, dan…..
undanganya harus banyak, limaratus orang lebih kalau bisa, pakai uang ibu,
entar kalau kurang biar ibu yang cari’, itu celomet ibu,pakai uang ibu toh
saya yang terbebani, jadi punya hutang sama ibu, apalagi kalau sampai pinjem
orang, yah apalah ibu ibu ibu, ini bapak mah terima aja apa-apa yang diomongin
ibu. Dan akhirnya memang super besar pernikahan ini, budget (tapi dibaca bajet)
pribadi saya sangat sedikit, tapi masih mampu untuk beli krupuk, semua demi
nyenengin ibu yang punya niatan nyenengin anaknya, tapi niatan aslinya mungkin
lagi-lagi geng-si.
Para
supporter LA Mania, pendukung persela datang menghadiri pernikahanku, juga tak
lupa teman-teman bapak Kasmuji (mertuaku) para supporter Aremania juga datang
memenuhi tribun utama dalam pertandingan pernikahan ARI dan LIA, ah.. apalah
yang pasti sangat penuh sesak, seperti pasar pagi liar ditempatku, meski sering
kena razia oleh pemerintah desa, tapi pasar tetap penuh sesak. Kembali lagi
kepernikahan ini, pembengkakan pada keuangan akan semakin terlihat ketika dua
tim photographer datang, gila brooooo gak Cuma satu tim saja, tapi 2 tim
photographer, seperti 2 tim pendukung bola LA Mania dan Aremania yang ikut mendukung pernikahan kita,
photographer 1 tentu dari tim make-up yang kita sewa, sewa rias (make-up)
sepaket dengan asesoris tempat plus dapat bonus 1 team photographer nikahan,
tau sendirilah kualitas photographer nikah, asal wajah yang ada difoto cerah,
mereka bilang bagus, eh tapi gak semua photographer nikahan seperti itu,
astaghfirullah, saya berprasangka buruk, maafkan aku. Yang tim photographer
kedua, adalah teman-teman hamba, kualitas dijamin keren dan langkah,
didatangkan langsung dari dunia yang berbeda, jadi ya… aku sendiri bingung
mereka ini darimana, hahaha, keren pastinya.
Pagi
buta, si pagi ini mungkin kena katarak gak dioperasi, jadinya buta, lia sudah
menjalani rias wajah dan memakai pakaian pengantin, coba bayangkan betapa
cantiknya dia, belum dimake-up saja lesung pipitnya gak ada, apalagi pas
setelah dimake-up, pasti gak ada, iyalah dia gak punya lesung pipi brooo, tapi
sekali lagi bayangkan, jika wajahnya yang putih bersih berpadu dengan bedak
tipis dan warna make-up, alisnya digambar dengan gambaran adat jawa, bukan
gambar kekinian ditahun 2016 saya menulis ini. Saya mengintip sedikit, jangan
banyak-banyak nanti ketahuan, lia sangat pasrah dengan si tukang make-up,
wajahnya dicoret-coret pake kuas, di cat warna-warni, digambar, dihapus,
digambar dan dihapus lagi, sempat aku emosi bagaimana bisa dia calon istriku
pasrah dan wajahnya dijadikan kanvas yang seenaknya dicoret-coret si tukang.
(tulisan diatas jangan dibayangin, saya saja yang bayangin, dosa jika kalian
bayangin istri orang)
‘dek
ari, dek ari’ terdengar suara kencang namun dengan
nada halus.
‘oh injih’ artinya ‘oh
iya’ saya jawabnya.
‘sudah
hafal ijab qobulnya? Pakai bahasa Indonesia apa bahasa arab?’
kasmuji ternyata yang ngomong, itu belum jadi mertua ya.
‘oh
sampun pak, niki kulo ngangge boso jerman’ oh sudah pak,
ini saya pakai bahasa jerman.
‘huahahahaha’
ketawa dia, dan bersinar, taulah apa yang bersinar, aku gak mau nyebut, banyak
dosa saya pada kasmuji ini.
‘qobiltu
nikahahaa wa tajwijahaa bil mahril madkuur, lancar nggeh pak’ ngomongku
sambil mesem alias senyum tipis-tipis.
‘buagus
dek, jangan grogi ntar, latihan dulu sama bapak sini’ besar
suara kasmuji ini, sebesar jidatnya yang mirip landasan pesawat.
‘entar
kalau latihan sama bapak, takutnya jadi syah sama bapak, dan masak kita jadi
suami istri pak!’ jawabku bercannda.
‘hahaha, cah bagus, cah bagus,
kamu ini bisa aja kalau ngajak bercanda’ kasmuji doyan dipuji, belum naik
haji, sukanya nerima gaji.
‘ini
pak kasmuji udah tau nama saya Muhammad Arifuddin, malah dipanggil bagus’ aku
ini ngomong dihati hlo ya, gak saya ucapkan dengan mulut, INGAT NGOMONG DIHATI.
Sembari menunggu nyonya
cantik Lia Nur Ratna di make-up, saya berlatih dengan professor kasmuji,
sebetulnya dia Lulusan SMA, tapi kepalanya kayak professor penemu truk tinja,
plus sedot WC.
*beberapa
lama kemudian, sampai roti mulai jamuran, ibu tetangga pulang dari haji, dan
pak jarwo nikah lagi*
Usai
juga ijab qobulnya, dan saya syah beristrikan lia, kami duduk didepan bagaikan
david beckham dan Victoria, bagaikan pangeran Charles dan putri Diana, bagaikan
joko tingkir dan nyi retno ayu, bagaikan bagaikan bagaikan. Ada sesuatu yang
mengganjal pikiran saya ketika melihat tamu undangan, bukan karena saya iri
kepada pak prasetyo dan bu atik (bapak ibu saya), saya tidak iri karena ketika
mereka nikah saya tidak diundang, bukan karena itu. Juga bukan karena anak
kecil yang menangis, bukan juga karena bapak ibu guru saya dan pak yai pengurus
podok yang datang (tak masuk akal jika bingung karena mereka, toh mereka
diundang), tapi dibarisan mana teman-teman saya duduk, dan dibarisan mana
teman-teman mantan saya duduk. Merasa berdetak kencang lagi ketika melihat
wajah-wajah mereka, wajah-wajah teman-teman mantan, merasa canggung dan malu,
apalah saya ini sebagai pendusta janji, atau sebagai penegas hati, sedangkan
tentu dilihat sangatlah seperti banci.
Aku
syukuri nila tak ada dibarisan mereka, meski mereka duduk dan tak berbaris, aku
takut ada hujan jika nila datang, hujan dari mata tentunya, tentunya pula
disertai suara gemuruh dari dalam hati tak terdengar ditelinga. Hehei jangan melamun,
malulah didepan orang, ini bahagia kami dan hari kami, toh saya telah melupakan
hal-hal itu kenapa harus mengingat lagi lantaran datangnya ikatan suci ini, kan
terbalik jadinya. Sebab ini aku jadi goblok, padahal yang seharusnya goblok
adalah mereka yang tak bersekolah, atau mereka yang tidak menyekolahkan
anak-anaknya, hah terlalu sok pikiranku jadinya, duduk di atas mereka ini. Yang
goblok lagi ketika saya pandangi wajah lia, dia juga melamun, apa coba yang
dipikirkannya, saya berbisik kepadanya pelan ‘jangan dipikirin nanti malam,
tenang saja’, seketika pula lia senyum dan mencubit sakit, dan faknya
(tulisannya sebenarnya f*ck-nya, itupun masih salah, karna ada bintangnya) pak
yai yang memberikan ceramah melihat tingkah kami, dan tentu dia bilang ‘toh masih pagi, sabar dulu jangan
cubit-cubitan, malam masih lama’ kan
malu jadinya tante…… seraya satu stadion bersorak.
Allah,
padamkanlah mataku, jika aku terus melihat yang bukan hak’ku.
Setelah
semua usai, berjabatlah kita, berpelukanlah kita, dengan teman-teman terdekat, 80%
mereka ngomong selamat ya, selamat ya, semoga aku cepet nyusul, hah yang
sisanya cuma senyum, yang sebagian kecil ngomongnya ‘cuk kon kebelet niggalno konco jomblo’, ini yang paling menyakitkan bagi saya ketika
yang ngomong adalah sahabat saya si irul, cowok dia, bukan cewek, kalau ada
pembaca cewek jomblo biar bisa saya kenalin sama dia, paragraph selanjutnya
saya ceritakan si irul, tapi kalau ingat.
Berapa
lama kami berdua selalu bercerita tentang nasib kami, yang memang saya lebih
mujur urusan cewek dibandingkan dengan si irul, selalu tertawa dalam ketidak
puasan karena dia selalu sendiri, jomblo makmur. Seumur hidup dia pacaran
mungkin 4x. pacar pertama irul, dia kurang tulus mempermainkan irul, ini versi
teman-teman yang melihat mereka, toh juga yang cinta tak mungkin melihat orang,
menasehati orang yang jatuh cinta itukan percuma, jadi main sindir halus saja
kita, kadang kasar kayak ketika kalian jarang minum, dan eek kasar banget toh.
Kalau pacar kedua irul ini keren, temen-temen pada setuju, tapi mereka end
juga, faktornya si cewek bicaranya tinggi, mobillah, itulah, uang harta dll, tp
toh kita semua dulu tinggal didesa yang panas, gak lucu ngomongin mobil gitu,
kecuali kalau ibuku yang ngomong gak masalah, orang gengsinya besar dan memang
menjadi sumber penghasilan orang tua, jual beli ataupun sewa mobil. Untuk pacar
ketiga irul, dia balikan sama mantan yang pertama, temen-temen bilang… ‘kan
tai…………’ hahaha, pasalnya irul terlalu polos untuk menghadapi bidadari selokan
seperti dia. pacar yang terakhir ini agak keren, pacar khayalan, dan itu sampe
sekarang, sebenarnya saya sendiri yang menganggap dia pacaran dengan pacar
khayalan, karna kasihan dia kalau dikatakan jomblo, hahaha.
Goblok,
mungkin kalian akan beranggapan seperti itu, memang terlihat goblok jika kalian
membaca cerita dibawah ini, saya sendiri berpikir goblok tapi ini bukan bukti
gobloknya lho,melainkan sisi polosnya yang tak mengenal dunia wanita saat itu.
Kejadiannya ketika kita masih SMA dan irul itu kakak tingkat ari, ari itu aku
lhoo, bukan ari yang lain, bukan juga ari mantannya yuli, nama yang sama tapi
tentu tinggat kegantengannya jauh beda, gantengan ari akulah, mana mungkin ari
itu gantengm aduh jadi ngomongin arii yang lain. Waktu itu aku pacaran sama
orang, ya sama orang, bukan alien, dan irul suka atas temen pacarku, kata
‘atas’ sebelumnya terasa ambigu, kita ulang ‘dan irul suka temen pacarku’itu
lebih baik. Aku dan teman-teman setuju aja kalau irul pendekatan ke dia, siapa
yang gak setuju kalau teman dapat pacar temannya pacar, bingung nggak? Kalau
temanku pacaran sama temennya pacarku, masih bingung? Pikir sendirilah.
Bermula
waktu irul mulai mengirim pesan singkat atau biasa disebut SMS, irul mah pulsa
dikit cari bonusan, hahaha. Setelah beberapa kali dia kirim sms, lama belum,
barusan juga nggak, pokoknya baru 1 hari mungkin dia sms’an sama tersangka. Aq
memberikan nasihat kepada irul, layaknya Mario teguh memberikan nasihat
terhadap tv, ngomongin Mario teguh jadi ingat kepada kasmuji, hahaha.
‘Rul,
jangan tergesah gesah ngomong suka dengan dia, kamu gak tau hidupnya, ada pacar
atau nggak, bla bla bla…..’ itu ngomongku ke irul
‘iya’
dia jawab sambil senyum-senyum
‘coba
kamu korek infonya dengan pelan’ tambahku lagi
‘eh
dia ngomong gini, gimana ini boy’ sambil nyodorin hape
ke muka aku, nempel deh
‘Kamu mau jadi pacar keduaku ta? Aku punya
pacar, tapi gak masalah kalau kamu mau jadi pacar keduaku, pacarku gak akan
marahku’
Anehnya dapat sms itu
dia seneng banget ekspresinya, toh seperti nemuin uang 200ribu dijalan, aku
tanya ke irul akhirnya
‘sebelumnya
kamu sms apa rul ke dia?’ tanyaku dengan emosi
‘aku
ngomong kalau aku suka sama dia’ jawab irul
Seketika itu langsung
aq tempeleng kepalanya
‘goblok
udah dibilang jangan ngomong suka, trus maksudmu apa, apa kamu mau jadi pacar
keduanya?’ tanyaku dengan tangan masih melayang
setelah nempeleng dia
‘iya
nih masih bingung, enaknya gimana boy? Jawab dia dan tanya dia
‘gobloook,
gitu masih dipertimbangkan, ah…ya jangan maulah’
sambil nempeleng lagi saya.
‘tapi
boy’ ragu si irul
‘tapi
apa, kamu jadi selingkuhannya dia, rendah banget harga dirimu, cinta aja belum,
wes jangan mau, aku gak setuju’ jawabku dengan nada
keras
Dia sedih dan kelihatan
bego, betapa polosnya cagub ini, bukanlah calon gubernur, tapi cagub, cah
guoblok, tapi bodohnya dia karna polos lho… ingat karena polos, aduh maaf mas
irulku sayang, saudaraku sayang…. Aku harus nulis sisimu yang o’on banget ini.
Tersadar
saya dari lamunan singkat, selesai sudah resepsi, dan menyandang status baru,
saya sudah menikah, tolong dimengerti wanita-wanitaku, jika mataku jelalatan,
ingatkan aku. Semoga imanku bertambah dan menjaga hubungan kami dan mata kami. Amiiiinnnnnnn………..