Rabu, 23 November 2016

Menikah, irul?

Tentu iyalah, siapa juga yang tak menginginkan pernikahan besar, kebanggaan dan keinginan setiap orang yang ada, yang hidup, yang punya pacar, bahkan jomblopun mengandai-andai ingin merayakan pernikahan besar, meski wajah calon belum ada, mungkin ada tapi disensor, atau ada dengan wajah tetangga mereka sendiri, teman kelas pas sekolah, atau parahnya lagi para jomblo bayangin mempelainya adalah pacar atau bojo orang lain. Hal yang wajar jika setiap kepala orang menginginkan pernikahan besar, sebagai simbol kesuksesan bekerja mungkin, gengsi juga bisa, ingin sepenuhnya merayakan moment 1x seumur hidup, meski para cowok berkhayal lagi bahwa ada pernikahan lagi, hahaha, naluri seorang lelaki. Apapun akan diadakan kalau ingin merayakan pesta pernikahan, dengan undangan sebanyak-banyaknya, kue sebesar-besarnya, suguhan makanan yang mahal, berkat, artiannya apa ya untuk kata berkat? Disini adalah jajanan yang diberikan kepada para undangan saat mereka meninggalkan dunia, meninggalkan tempat resepsi maksudnya, tempat luas dan megah (megah artian luas, bukan mega anaknya bu astri, atau mega yang putih dilangit dan jadi hitam kalau lagi galau).
Apalah, bahas masalah besarnya resepsi pernikahanku, tak kalah dengan besarnya pernikahan orang-orang kaya yang ada ditempatku, agak sombong sih, tapi kesombongan ini tak bisa saya banggakan, bagaimana bisa bangga, la wong saya juga ngutang, bagaimana tidak hutang! Ini tuntutan dari atik, atau lebih sopannya bu Atik, harus sopan, karna ini ibunya Ari, Ari itu saya, dan pasti bu Atik itu ibu saya. Beliau (read bu atik) gengsinya super besar, sebesar upil kering yang tak kamu bersikan selama 1 bulan, menutupi lubang hidungmu, sebesar itulah gengsi bu Atik, menutupi lubang malunya dengan gengsi, ‘pokoknya ibu mau pernikahan ini dilaksanakan sebesar-besarnya, dan….. undanganya harus banyak, limaratus orang lebih kalau bisa, pakai uang ibu, entar kalau kurang biar ibu yang cari’, itu celomet ibu,pakai uang ibu toh saya yang terbebani, jadi punya hutang sama ibu, apalagi kalau sampai pinjem orang, yah apalah ibu ibu ibu, ini bapak mah terima aja apa-apa yang diomongin ibu. Dan akhirnya memang super besar pernikahan ini, budget (tapi dibaca bajet) pribadi saya sangat sedikit, tapi masih mampu untuk beli krupuk, semua demi nyenengin ibu yang punya niatan nyenengin anaknya, tapi niatan aslinya mungkin lagi-lagi geng-si.
Para supporter LA Mania, pendukung persela datang menghadiri pernikahanku, juga tak lupa teman-teman bapak Kasmuji (mertuaku) para supporter Aremania juga datang memenuhi tribun utama dalam pertandingan pernikahan ARI dan LIA, ah.. apalah yang pasti sangat penuh sesak, seperti pasar pagi liar ditempatku, meski sering kena razia oleh pemerintah desa, tapi pasar tetap penuh sesak. Kembali lagi kepernikahan ini, pembengkakan pada keuangan akan semakin terlihat ketika dua tim photographer datang, gila brooooo gak Cuma satu tim saja, tapi 2 tim photographer, seperti 2 tim pendukung bola LA Mania dan  Aremania yang ikut mendukung pernikahan kita, photographer 1 tentu dari tim make-up yang kita sewa, sewa rias (make-up) sepaket dengan asesoris tempat plus dapat bonus 1 team photographer nikahan, tau sendirilah kualitas photographer nikah, asal wajah yang ada difoto cerah, mereka bilang bagus, eh tapi gak semua photographer nikahan seperti itu, astaghfirullah, saya berprasangka buruk, maafkan aku. Yang tim photographer kedua, adalah teman-teman hamba, kualitas dijamin keren dan langkah, didatangkan langsung dari dunia yang berbeda, jadi ya… aku sendiri bingung mereka ini darimana, hahaha, keren pastinya.
Pagi buta, si pagi ini mungkin kena katarak gak dioperasi, jadinya buta, lia sudah menjalani rias wajah dan memakai pakaian pengantin, coba bayangkan betapa cantiknya dia, belum dimake-up saja lesung pipitnya gak ada, apalagi pas setelah dimake-up, pasti gak ada, iyalah dia gak punya lesung pipi brooo, tapi sekali lagi bayangkan, jika wajahnya yang putih bersih berpadu dengan bedak tipis dan warna make-up, alisnya digambar dengan gambaran adat jawa, bukan gambar kekinian ditahun 2016 saya menulis ini. Saya mengintip sedikit, jangan banyak-banyak nanti ketahuan, lia sangat pasrah dengan si tukang make-up, wajahnya dicoret-coret pake kuas, di cat warna-warni, digambar, dihapus, digambar dan dihapus lagi, sempat aku emosi bagaimana bisa dia calon istriku pasrah dan wajahnya dijadikan kanvas yang seenaknya dicoret-coret si tukang. (tulisan diatas jangan dibayangin, saya saja yang bayangin, dosa jika kalian bayangin istri orang)
‘dek ari, dek ari’ terdengar suara kencang namun dengan nada halus.
‘oh injih’ artinya ‘oh iya’ saya jawabnya.
‘sudah hafal ijab qobulnya? Pakai bahasa Indonesia apa bahasa arab?’ kasmuji ternyata yang ngomong, itu belum jadi mertua ya.
‘oh sampun pak, niki kulo ngangge boso jerman’ oh sudah pak, ini saya pakai bahasa jerman.
‘huahahahaha’ ketawa dia, dan bersinar, taulah apa yang bersinar, aku gak mau nyebut, banyak dosa saya pada kasmuji ini.
‘qobiltu nikahahaa wa tajwijahaa bil mahril madkuur, lancar nggeh pak’ ngomongku sambil mesem alias senyum tipis-tipis.
‘buagus dek, jangan grogi ntar, latihan dulu sama bapak sini’ besar suara kasmuji ini, sebesar jidatnya yang mirip landasan pesawat.
‘entar kalau latihan sama bapak, takutnya jadi syah sama bapak, dan masak kita jadi suami istri pak!’ jawabku bercannda.
hahaha, cah  bagus, cah bagus, kamu ini bisa aja kalau ngajak bercanda’ kasmuji doyan dipuji, belum naik haji, sukanya nerima gaji.
‘ini pak kasmuji udah tau nama saya Muhammad Arifuddin, malah dipanggil bagus’ aku ini ngomong dihati hlo ya, gak saya ucapkan dengan mulut, INGAT NGOMONG DIHATI.
Sembari menunggu nyonya cantik Lia Nur Ratna di make-up, saya berlatih dengan professor kasmuji, sebetulnya dia Lulusan SMA, tapi kepalanya kayak professor penemu truk tinja, plus sedot WC.
*beberapa lama kemudian, sampai roti mulai jamuran, ibu tetangga pulang dari haji, dan pak jarwo nikah lagi*
Usai juga ijab qobulnya, dan saya syah beristrikan lia, kami duduk didepan bagaikan david beckham dan Victoria, bagaikan pangeran Charles dan putri Diana, bagaikan joko tingkir dan nyi retno ayu, bagaikan bagaikan bagaikan. Ada sesuatu yang mengganjal pikiran saya ketika melihat tamu undangan, bukan karena saya iri kepada pak prasetyo dan bu atik (bapak ibu saya), saya tidak iri karena ketika mereka nikah saya tidak diundang, bukan karena itu. Juga bukan karena anak kecil yang menangis, bukan juga karena bapak ibu guru saya dan pak yai pengurus podok yang datang (tak masuk akal jika bingung karena mereka, toh mereka diundang), tapi dibarisan mana teman-teman saya duduk, dan dibarisan mana teman-teman mantan saya duduk. Merasa berdetak kencang lagi ketika melihat wajah-wajah mereka, wajah-wajah teman-teman mantan, merasa canggung dan malu, apalah saya ini sebagai pendusta janji, atau sebagai penegas hati, sedangkan tentu dilihat sangatlah seperti banci.
Aku syukuri nila tak ada dibarisan mereka, meski mereka duduk dan tak berbaris, aku takut ada hujan jika nila datang, hujan dari mata tentunya, tentunya pula disertai suara gemuruh dari dalam hati tak terdengar ditelinga. Hehei jangan melamun, malulah didepan orang, ini bahagia kami dan hari kami, toh saya telah melupakan hal-hal itu kenapa harus mengingat lagi lantaran datangnya ikatan suci ini, kan terbalik jadinya. Sebab ini aku jadi goblok, padahal yang seharusnya goblok adalah mereka yang tak bersekolah, atau mereka yang tidak menyekolahkan anak-anaknya, hah terlalu sok pikiranku jadinya, duduk di atas mereka ini. Yang goblok lagi ketika saya pandangi wajah lia, dia juga melamun, apa coba yang dipikirkannya, saya berbisik kepadanya pelan ‘jangan dipikirin nanti malam, tenang saja’, seketika pula lia senyum dan mencubit sakit, dan faknya (tulisannya sebenarnya f*ck-nya, itupun masih salah, karna ada bintangnya) pak yai yang memberikan ceramah melihat tingkah kami, dan tentu dia bilang ‘toh masih pagi, sabar dulu jangan cubit-cubitan, malam masih lama’  kan malu jadinya tante…… seraya satu stadion bersorak.
Allah, padamkanlah mataku, jika aku terus melihat yang bukan hak’ku.
Setelah semua usai, berjabatlah kita, berpelukanlah kita, dengan teman-teman terdekat, 80% mereka ngomong selamat ya, selamat ya, semoga aku cepet nyusul, hah yang sisanya cuma senyum, yang sebagian kecil ngomongnya ‘cuk kon kebelet niggalno konco jomblo’,  ini yang paling menyakitkan bagi saya ketika yang ngomong adalah sahabat saya si irul, cowok dia, bukan cewek, kalau ada pembaca cewek jomblo biar bisa saya kenalin sama dia, paragraph selanjutnya saya ceritakan si irul, tapi kalau ingat.
Berapa lama kami berdua selalu bercerita tentang nasib kami, yang memang saya lebih mujur urusan cewek dibandingkan dengan si irul, selalu tertawa dalam ketidak puasan karena dia selalu sendiri, jomblo makmur. Seumur hidup dia pacaran mungkin 4x. pacar pertama irul, dia kurang tulus mempermainkan irul, ini versi teman-teman yang melihat mereka, toh juga yang cinta tak mungkin melihat orang, menasehati orang yang jatuh cinta itukan percuma, jadi main sindir halus saja kita, kadang kasar kayak ketika kalian jarang minum, dan eek kasar banget toh. Kalau pacar kedua irul ini keren, temen-temen pada setuju, tapi mereka end juga, faktornya si cewek bicaranya tinggi, mobillah, itulah, uang harta dll, tp toh kita semua dulu tinggal didesa yang panas, gak lucu ngomongin mobil gitu, kecuali kalau ibuku yang ngomong gak masalah, orang gengsinya besar dan memang menjadi sumber penghasilan orang tua, jual beli ataupun sewa mobil. Untuk pacar ketiga irul, dia balikan sama mantan yang pertama, temen-temen bilang… ‘kan tai…………’ hahaha, pasalnya irul terlalu polos untuk menghadapi bidadari selokan seperti dia. pacar yang terakhir ini agak keren, pacar khayalan, dan itu sampe sekarang, sebenarnya saya sendiri yang menganggap dia pacaran dengan pacar khayalan, karna kasihan dia kalau dikatakan jomblo, hahaha.
Goblok, mungkin kalian akan beranggapan seperti itu, memang terlihat goblok jika kalian membaca cerita dibawah ini, saya sendiri berpikir goblok tapi ini bukan bukti gobloknya lho,melainkan sisi polosnya yang tak mengenal dunia wanita saat itu. Kejadiannya ketika kita masih SMA dan irul itu kakak tingkat ari, ari itu aku lhoo, bukan ari yang lain, bukan juga ari mantannya yuli, nama yang sama tapi tentu tinggat kegantengannya jauh beda, gantengan ari akulah, mana mungkin ari itu gantengm aduh jadi ngomongin arii yang lain. Waktu itu aku pacaran sama orang, ya sama orang, bukan alien, dan irul suka atas temen pacarku, kata ‘atas’ sebelumnya terasa ambigu, kita ulang ‘dan irul suka temen pacarku’itu lebih baik. Aku dan teman-teman setuju aja kalau irul pendekatan ke dia, siapa yang gak setuju kalau teman dapat pacar temannya pacar, bingung nggak? Kalau temanku pacaran sama temennya pacarku, masih bingung? Pikir sendirilah.
Bermula waktu irul mulai mengirim pesan singkat atau biasa disebut SMS, irul mah pulsa dikit cari bonusan, hahaha. Setelah beberapa kali dia kirim sms, lama belum, barusan juga nggak, pokoknya baru 1 hari mungkin dia sms’an sama tersangka. Aq memberikan nasihat kepada irul, layaknya Mario teguh memberikan nasihat terhadap tv, ngomongin Mario teguh jadi ingat kepada kasmuji, hahaha.
‘Rul, jangan tergesah gesah ngomong suka dengan dia, kamu gak tau hidupnya, ada pacar atau nggak, bla bla bla…..’ itu ngomongku ke irul
‘iya’ dia jawab sambil senyum-senyum
‘coba kamu korek infonya dengan pelan’ tambahku lagi
‘eh dia ngomong gini, gimana ini boy’ sambil nyodorin hape ke muka aku, nempel deh
Kamu mau jadi pacar keduaku ta? Aku punya pacar, tapi gak masalah kalau kamu mau jadi pacar keduaku, pacarku gak akan marahku’
Anehnya dapat sms itu dia seneng banget ekspresinya, toh seperti nemuin uang 200ribu dijalan, aku tanya ke irul akhirnya
‘sebelumnya kamu sms apa rul ke dia?’ tanyaku dengan emosi
‘aku ngomong kalau aku suka sama dia’ jawab irul
Seketika itu langsung aq tempeleng kepalanya
‘goblok udah dibilang jangan ngomong suka, trus maksudmu apa, apa kamu mau jadi pacar keduanya?’ tanyaku dengan tangan masih melayang setelah nempeleng dia
‘iya nih masih bingung, enaknya gimana boy? Jawab dia dan tanya dia
‘gobloook, gitu masih dipertimbangkan, ah…ya jangan maulah’ sambil nempeleng lagi saya.
‘tapi boy’ ragu si irul
‘tapi apa, kamu jadi selingkuhannya dia, rendah banget harga dirimu, cinta aja belum, wes jangan mau, aku gak setuju’ jawabku dengan nada keras
Dia sedih dan kelihatan bego, betapa polosnya cagub ini, bukanlah calon gubernur, tapi cagub, cah guoblok, tapi bodohnya dia karna polos lho… ingat karena polos, aduh maaf mas irulku sayang, saudaraku sayang…. Aku harus nulis sisimu yang o’on banget ini.
Tersadar saya dari lamunan singkat, selesai sudah resepsi, dan menyandang status baru, saya sudah menikah, tolong dimengerti wanita-wanitaku, jika mataku jelalatan, ingatkan aku. Semoga imanku bertambah dan menjaga hubungan kami  dan mata kami. Amiiiinnnnnnn………..


Senin, 14 November 2016

Mertua Botak


‘Hai, aku rindu kamu, bagaimana kabarmu?’ Mengingat kembali ketika aku ingin mendekati istriku, sebelum jadi istri tentunya, pacar belum, kenal juga belum, baru dapat info kontaknya dari temen ketika zaman masih dengan pulsa sms yang mahal. Ya tentu siapa juga yang akan membalas pesan singkat yang norak dan tak tau malu seperti itu, kenal juga kagak, dikasi nama juga enggak, bodoh amatlah pesannya, bukan pesannya yang bodoh, tapi orang yang mengirim pesan yang bodoh, mana ada pesan bodoh. Berbicara tentang pesan bodoh, maksudnya orang yang bodoh, bodoh lagi jika pesan itu ditanggapi, untungnya istriku (pas itu belum lo yaaa) gak menanggapi pesan bodohku itu. Lantaran dia belum bodoh, ya aku kirim kembali pesan singkat yang bodoh itu, sehari 3x meski orangnya makan Cuma sekali sehari. Dapat 3 harinya, lia menjadi bodoh dengan membalas pesan bodohku itu. Emm mungkin karna 3x sehari selama 3 hari, jadi 9 pesan yang terkirim, angka mujur 9.
‘baik, siapa ini? Kok bilang rindu’  yaa  seperti itu lia membalas dendam, lantas aku harus ngomong apa jika sperti itu? Aku berpikir sejenak, mungkin dia disamping lagi goblok juga lagi nganggur, menambah jumlah pengangguran Indonesia saja. Ya karna jam 9 malam dia balasnya, yasudah aku telpon saja, untungnya sama operator, sama hati juga mungkin, aku daftarin nelpon murah, telpon dah. Belum terhubung aku matikan lagi, lantas aku harus ngomong apa? Tapi yasudah gak usah dipirkan kalau diangkat ya ngomong asal aja, tinggal ngomong doang kok. Tentu saja pintu kamar kosku sudah ku tutup dahulu, karna jam 9 anak-anak pulang kerja untuk shift yang kedua, tentu akan rame dan mengganggu.
Tuuut, tuut, tuut, suara kereta melintas disamping kos yang bebarengan dengan suara yang aku dengar dari hape. Ini selang 2 menitan semenjak dia membalas kenapa gak diangkat juga jemurannya, apa dia tertidur sampai lupa dengan bajunya yang belum disetrika, ya tentulah aku tau, orang dia sore tadi angkat jemuran pas aku lewat samping rumahnya, atau jangan-jangan  itu jemuran loundry, ibunya terlalu gesit sampai buka loundry nyucikan baju orang. Kembali lagi, untuk ketiga kalinya aku nelpon, akhirnya diangkat juga, lagi-lagi dengan angka 3.
‘hallo.. assalamu’alaikum’ salam ku awali telpon gak jelas (bukan telponnya, akunya mungkin)
‘iya.. wa’alaikum salam, siapa ini? Ganggu banget sih’ ketusnya lia bales omongan, kayak ibunya ’15ribu mas, bayar diawal ya, ngambilnya juga ditanggal yang pas, jangan telat, liat orang-orang pakaiannya numpuk dirumah saya gak diambil-ambil’.
‘ini lia apa ibunya?’ akunya nyerocos, agak keterlaluan.
‘hah, emang tau ibu saya? Terus ini siapa?’ lia dengan nada ketusnya.
‘ini lia anaknya bu tari dan bapak kasmuji kan? Toh aku gak salah’ agak dengan nada ketus juga gak mau kalah.
‘terus ini siapa? Kok tau lengkap’ Tanya lagi tentang identitasku, kayak polisi, dia cinta mungkin, pengen tau tentang aku.
‘ari, biasa dipanggil cungkring, blok sebelah dari blok rumahmu, dipisahkan 8 rumah dari rumahmu lia’ agak tegas dengan penurunan nada dibelakang.
‘terus maksudnya apa sms kayak gitu? Terus kenapa juga nelpon-nelpon’ masih ketus aja lia.
‘ya supaya kamu bales, hahaha, pengen kenal aja, kamu tau aku ndak?’ omongku garing.
‘enggak’ fak dah, singkat padat dan jelas.
‘ya maaf kalau aku ganggu, tapi setidaknya kamu tau ada aku yang melihatmu’ panjang, gak padat, dan gak jelas.
‘apa sih’ lagi-lagi singkat padat dan jelas plus membingungkan.
‘ya jujur aja, aku  tau kamu gak punya pacar, dan ari disini ingin memperkenalkan diri, plus bicara resmi mau pendekatan sama lia’ ngawurku keluar gak piker panjang.
‘hah, sok tau, lia udah punya pacar nah, ngawur kamu’ lia ngomong agak sakit.
‘kalau punya putusin aja kak lia, lagian bagaimana bisa lia pacaran kalau tiap hari bantu bu tari menari, eh maksudnya ngurus loundry’ ngawur lagi bibir tebalku.
‘hemmmm, mas ngawur kalau ngomong, udah ah, gak asik tau’  lia marah-marah, nadanya datar dan ketus.
‘toh besok juga aku ambil loundry pagi, kan lia yang jaga,ibu pasti kepasar, bapak juga pergi kerja’ nyrocosku ngaco, ‘nyrocos’ dibaca ngomong tapi dengan gaya bicara agak cepat, mungkin cepat bukan agak lagi.
‘heh… kok  tau sampe sedetail itu?’ Tanya lagi lia dengan nada penasaran.
‘hah, katanya yaudah, kenapa masih Tanya!’ aku yang sok jadinya, sok gak berharap bicara padanya, hahaha.
‘ya si mas, terserah mas aja deh’ ngambek-ngambek unyu.
‘iyalah aku sering liat bapak boncengin ibu ke pasar, bapak pakai-pakaian dinas, sedang ibu bawa tas pasar’
‘masnya satpam kompleks ya?’ lia mulai ngawur.
‘ngawur, aku kerja dibandara ini nah, lia ngawur ngomongnya’ agak marah sih dituduh satpam.
‘abisnya mas sih… tugasnya kayak satpam, liatin orang, nyapa orang, paling seneng dikasih makanan’ ada benernya sih lia ngomong gitu.
‘aku akui deh, tak pikir-pikir ada benernya juga lia ngomong, hahahha, ya lia istirahat sana dulu, besok jam ½ 7+2 (baca:setengah sembilan) aku kesana ambil loundryan’ ucap janji datang dah.
‘besok tutup mas loundrynya nah, minggu’ sahut lia.
‘mana ada minggu tutup, lia ngawur nah’ bantahku donk,biasanya buka
‘iya mas, saya tutup kalau mas datang, kalau buka, aku gak mau keluar’ politik lia.
‘ya aku teriak teriak atau nyelonong masuk donk’ ancamku lawan politik.
‘haduh deh, liat besok aja, semoga ibu gak kepasar, udah ya mas tak tidur dulu’ ujar lia pamit, nadanya udah gak serem, tapi masih datar.
‘oke dah, cucumumu’ ujarku
‘hah? Apa itu?’ Tanya lia gak mau nutup telpon.
‘cucumumu, cup cup muah muaaah, hahaha’ balasku dengan gaya datar tanpa perasaan.
‘apaseh mas, yaudah, bye……’ terakhirnya dari lia
‘Tuuuuut tuuut tuuuuuut tuuuuut’ suara kereta lewat lagi.
            Besoknya aku bangun pagi sekali, biar pas ketemu mata udah gak merah, mandi sudah, tapi belum pake baju, dari setelah mandi Cuma celana pendek sambil dengerin radio lokal dengan aksen Kalimantan timur banget, Indonesia bercampur logat Kalimantan, sepagi ini udah ada penyiar cewek radio, dia berangkat kerja jam berapa, terus berapa jauh rumahnya, suaranya cantik, tapi biasanya gendut, siaran sambil nyemil jajanan, atau pas berangkat naik taksi (kalau jawa angkot, kalau argo itu baru taksi) sambil makan jajanan dan sudah bawa sekantong donat, hah apalah pagi-pagi mikirin penyiar. Jam seperti rusak, dari tadi jam 7 terus, liat jam di ruang tamu juga masih jam 7, mau telpon ke jawa pasti ntar malah ngomong jam 6, hah nikmati radio ajalah, sambil sarapan, milih baju, dan berangkat.
            Ya ya ya, manusia, jam jadi cepat, udah jam 8 malah belum apa-apa, toh liat ini jadi tergesah-gesah, repot bener jadinya. Belum pake baju, celana, minyak rambut, semir sepatu, pake spatu, wangi-wangian, dasi, ikat pinggang, jam tangan, cukur jenggot dan kumis, cabutin bulu hidung, cabut uban, potong kuku, sikat gigi lagi karna bekas kopi, ini mau ambil loundry apa mau kondangan mantan! (emang punya) Yasudah pake baju, celana, sepatu udah cukup, plus wangi-wangian menyan. Sudah siap 8.15 panasin motor, ganteng nunggu 5 menit baru jalan, paling tidak jam 8.20lah, orang selisih 8 rumah gak butuh waktu banyak, apalagi bawa motor, motor orangpun gak lama kalau sampe sana, emangnya haji sekalian sama antrenya.
Jalan sudah, masuk kompleks tetangga, sapa satpam sambil senyum, bener juga kata lia bahas satpam percakapan telpon, satpam senyum balik, dia jatuh cinta mungkin ke aku, hellloooooo satpam, aku masih normal. Rumahnya sudah kelihatan, dan kejutan pintu rumah tertutup, aku parker depan gerbang pendek, aku masuk jalan kaki dengan sedikit menenangkan diri, dan ternyata tidak ditutup sepenuhnya, masih terbuka dikit, dan tentu tulisan yang menempel dikaca tertera ‘buka’, seakan-akan dibuka lowongan daftar jadi menantu. Aku ketok jidatnya, pintunya maksudku , sambil bicara ‘assalamu’alaikum, ambil loundry’ dua kali aku bicara seperti itu dan…. Kejutan keluarlah bapaknya, pak kasmuji yang sudah botak dengan memakai peci putih, diliat seperti alim ulama, padahal modus untuk menutupi kebotakannya.
‘anu pak, ngambil loundry’ ucapku sambil melihat jidatnya.
‘oh, mana kertasnya dek?’ yang dimaksud kertas bukti loundry.
‘punten, niki pak kertasnya’ artinya, maaf ini pak kertasnya.
‘adek dari jawa ya? Jawa mana’ bapaknya kayak anaknya, suka nanya.
‘anu pak, lamongan, jawa timur’ jawabku santai dengan hormat.
‘ari (baca sambil liat kertas) aku juga jawa dek, malang bumi arema, (sembari jalan menuju rak pakaian) istriku kediri’ cerita dah kasmuji botak ini, upss calon mertua brooo….
‘wah jodohnya dekat dong pak, malang kediri’ sahutku ini yang sok jawi.
‘ya dek, (sambil bergumam dia bicara) ari, ari, ari,ari (seperti baca mantra untuk menemukan pakaianku) lia….lia…… coba carikan baju nama ari di rak dalam, disini gak ada’ teriak kasmuji botak.
‘iya paaaaaaa’ suara lia dekat, sepertinya dia mendengar percakapan kami tadi, atau mencoba mendengar, atau mengintip, padahal kami tak sedang mandi.
‘kerja disini dek?’ kasmuji kau seperti polisi.
‘iya pak, di sini, sepinggan (nama bandara)’ jawab aku yang kena tilang polantas.
‘sudah berapa lama dek disini?’ Tanya lagi dia botak lagi dia tanya lagi botaknya.
‘ini barusan pak, itu motor saya didepan’ jawabku ngaco.
‘aduh dek, kerja disininya dek, hahahhaha’ botaknya seperti ada mulutnya, ketawa lepas.
‘oh… 4 tahun pak, dan masih jomblo juga’ jawabku tambah ngaco.
‘gak laku mungkin, kurang wajah apa kurang kendaraan dek? Apa mau sama anak om? Dia jomblo dari dulu dek’ keceplosan pak kasmuji ini ngomongnya, belum sempet aku bicara, lia nyahut dari belakang.
‘ehm, bicara apa bapak, ini pak bajunya’ wajah lia bersinar, tersorot oleh sinar botak bapaknya.
‘hahaha, ini dek ari juga dari jawa, bercerita sedikit kita’ bapaknya agak takut, mengakui salahnya dia ngomong.
Aku perhatikan terus wajah lia, semakin, semakin cantik, tak pudar dan tak pudar.
‘yasudah pak, kalau sama jawa juga emang kenapa pak?’ ketusnya lia.
Sambil bicara dia sempat melirik ke aku, mata kita bertemu, nempel, operasi pemisahan mata, sesaat dia malu memerah wajahnya.
‘liaaaaa janganlah bicara seperti itu, bagaimanapun bapak dan ibumu dulu adalah perantau, kami tau suka duka merantau, kami dipertemukan juga diperantauan’ botak bersedih.
‘ah sabar pak sabar, jangan bersedih’ karna ucapanku itu, kami (aku dan kasmuji) tertawa lepas. Aku lihat lia senyum-senyum malu.
‘anu pak, anu’ aku mulai bicara.
‘anu anu apa mas, kok anu anu’ mertuaku nyahut kayak listrik tanpa kabel.
‘saya pamit dulu pak, makasih pak’ aku memohon pergi dari peradaban loundry.
‘iya dek hati-hati, kalau loundry kesini aja, bersih kok aku jamin’ kasmuji si botak promosi.
Iyalah disuruh balik, orang namanya juga usaha, kalau gak gitu gak laku, iyalah baik-baik sama orang, namanya juga usaha, kalau gak gitu gak laku, iyalah ketawa-ketawa, namanya juga usaha, kalau gak gitu gak laku, iyalah AKU BALIK, namanya juga usaha, kalau gak gitu gak laku. Eh…. Kalau gak gitu gak jodoh.
Usai sampai dikos, aku ingat ada yang aku lupakan, satu hal yang tidak penting, radioku masih nyala, kasihan mbak penyiar yang gendut makan donat (dalam bayangku, bukan bayang-bayang mantan) pasti dari tadi nyrocos ngomong sendiri, kayak orang gila, udah ngomong sendiri, gak aku dengerin, kebayang (bukan bayang mantan) habis berapa dia minum air, atau dia gakminum sambil menahan haus. Pas masuk kamar kos hapeku nyala, terdapat dua pesan yang aku terima, diiringi suara mbak penyiar yang gendut aku baca pesan yg pertama.
Selamat anda mendapatkan uang senilai 30juta rupiah, dari hadiah bulanan telkonser yang diundi tadi malam pukul 10 di indosyiar, nomer anda tidak dapat kami hubungi, silakan anda menghubungi nomer 0813318889999, hadiah dianggap tidak sah jika melebihi batas waktu 24 jam dari waktu pesan yang kami kirim.
Hah, berapa kali haji jika semua hadiah aku ambil, seringnya aku mendapatkan hadiah seperti ini, atau berapa kali aku bisa loundry di ‘muri loundry’ seraya bisa ngapelin lia, mungkin beratus kali jika ku ambil semua hadiah itu, aku baru nyantol kalau muri itu singkatan dari kasmuji dan tari, aku kira dulu pengen dapat rekor loundry terbersih atau tercepat, tapi loundry itu sudah mendapatkan rekor loundry anak tercantik. Tak terbayang, jika aku ambil hadiahnya ah gak usah dibayangin, nanti dosa, mengandai-andai tak mensyukuri nikmat Allah SWT. Dan memang lepas andaianku karna membaca pesan singkat dari pesan yang kedua, sperti ini pesannya:
Thanks, sudah hilangin mood marahnya bapak
Langsung segera mungkin aku balas pesan singkat dari ananda lia handayani saputri syah istri ari, hahaha, nama apa itu, aku cuma tau namanya lia, belum tau panjangnya nama itu, maksudnya nama panjangnya lia. Pesan lia aku balas dengan secepat kilat, tapi aku tak tau berapa km/jam kecepatan kilat, biasanya orang-orang seperti itu kalau mengandai, aduh mengandai lagi. Ini dah pesannya:
Sama-sama, tapi kalau boleh tau faktor apa yang membuat bapak marah?
Memperkecil suara volume radio gemuk, agar bisa konsen sama sms calon istriku (sebelum jadi istri) dan memreteli kancing baju satu per satu, belum juga dapat 3 kancing sudah dibalas sama ananda lia handayani saputri syah istri ari (ini do’a ya… namanya juga usaha, kalau gak gitu gak laku), ini nih pesannya.
Maaf, pulsa anda tidak mencukupi untuk mengirim pesan, silakan mengisi pulsa terlebih dahulu. Mau promo i-ring nidji-hapus aku, silakan hubungi 808, temukan penawaran menarik lainnya di telkonser menu blab la bla blab la bla bla.
Set dah, sempak basah dijemuran 5 hari, jatuh ke tanah di gigit kucing, mengharap dari sinar hape keluar nama lia, malah keluar nama o-pe-ra-to-r (dibaca biasa saja ya, operator).
Memulai lagi cinta baru, seraya aku putuskan berhenti dengan nila, sampai kapan orang tuaku berbicara ‘jangan dengan nila’ padahal aku cowok, kita akhirnya bisa memahami. Mungkin benar kata orang, Allah maha kuasa, jangan cinta berlebih pada orang, Allah cemburu dengan cintamu. Atau benar aku harus selalu berdo’a, ingat omongannya om pidi baiq ‘aku selalu berdoa berharap kamu mau denganku. Kukira Tuhan lebih kuasa daripada kau’.

Hai lia, beberapa kali aku loundry, beberapa kali kita bertatap pada loundry, beberapa kali kasmuji suka dipuji, beberapa kali botak kasmuji bersinar menghinggapi, beberapa kali bu tari menari, beberapa kali bu tari bercerita tak henti, dan Alhamdulillah kalian mempersilahkan keluarga ari datang, tak untuk loundry.

Minggu, 13 November 2016

Serius, Diam


Seperti menunggu waktu berbuka, menguji kesabaran untuk selesai waktu, sebatas ucapan orang disan, jemu dan semakin membosankan, lambat sangat lambat jam ini berjalan, sesering mungkin bertanya lagi “acara apa ini? Ngomongapa dia? Ngoceh-ngoceh tentang kesumpekan padaku”. Sudah masuk pembatas sore, aku yakin dia lelah berbicara lagi-lagi dan lagi, menunggu dia meneguk minuman terakhirnya, dan menutup dengan salam sebagai pertanda kebebasanku. Lagi kota ini, mengingatkan tentang aku dulu dengan dia, istriku bagaimana mungkin kita saling mencinta pada perpisahan yang tak pernah kita bayangkan, memikirkannya saja aku mulai muak, tapi lagi-lagi kenapa kota ini, bayang-bayang cinta kepadamu dan kenangan kepada istriku, hah.. bukankah lebih baik mengingat kesakitan dari pada mendengar kebosanan.
Jam 4 sore, aku telah menghubungi sahabat yang seperti saudariku sendiri, teman seperjuangan dan teman berbisik membicarakan kekonyolan yang tak penting, teman mengandai-andai yang selalu menertawakanku. Tepat 4.15 sore yuli datang dengan senyuman didepan hotel yang telah disewa oleh tim kantor kami, teriaknya kencang ketika melihatku bodoh sedang membaca posisi pesan dia. ‘gimana kabarmu mbut (mbut:panggilan akrab kami), tambah kurus kamu sekarang, perasaan baru 1 bulan gak ketemu’ celometnya memulai pembicaraan kami, dengan jawaban senyum saja aku bicara ke lain topik ‘aku sudah menghubungi nila, nanti kita jemput ke malang, kamu sudah hubungi dia jugakah mbut?’. ‘sudah, tenang aja, tapi aku gak tau kosnya dimana, niatmu kemalangmok datengin cintamu tok hahahaha’. Dengan itu kita turun dari kota batu menuju malang yang penuh kenangan,melaju diatas motor yuli kami sepanjang perjalanan cuma tertawa dan berdendang hati semakin dekat jarak aku dan nila semakin berdetak kencang jantung saya.
Setelah telpon dan kami sampai juga dikos setengah bebas milik nila, dia semakin cantik, memanjakan  pandanganku lagi tentang dia, mencoba berbicara dengan gaya biasa tak salah tingkah, dia tenang dengan mata yang masih penuh cinta, kami saling tau, aku, nila, dan yuli, bagaimana perasaanku terhadap nila, orang-orang juga tau meski dulu aku beristri, akutetap cinta dan takut dengan nila. Sampai aku bercerai dengan problem resmi dari istriku, tapi selalu mencari alasan nila adalah salah satu penyebab kami berpisah, dengan satu fakta aku hilang kontak dengan nila semenjak aku beristri. ‘ayolah kita jalan-jalan, kamu gak sibukkan? Kamu mandi sanalah dulu’ pecahku untuk mengajak pergi. Sesaat cepat dia mandi, langsung saja kita berangkat, nila berbonceng dengan yuli, sesama wanita yang memang seharusnya aku pria sendiri. ‘ayolah kemana kita? Kalian yang tau, mumpung aku ada di malang.’ Sesaat kami ada di kedai pizza, sengaja saya ingin mentraktir anak kos yang selalu kurang uang, hahaha.
Apa entah gerangan, nila tak banyak bicara, dia biasa tertawa bersama juga dengan yuli, tapi dia cenderung diam hari ini, yuli yang super dalam pemecah suasanapun gagal mendapatkan tawa dari nila, sayangnya apalagi aku, merayu untuk mendapatkan tawa dari dia adalah hal yang sulit. Setelahnya saya mengajukan diri untuk kami pergi ke paralayang, tempat penuh kenangan, ada dua momen bagi saya disana, aku dengan istriku dan bicara hati dengan nila. Gerimis dan dingin menemani kita diperjalanan, apa yang meredup semakin meredup, disana nila diam duduk sedang saya berceloteh dengan yuli. Apa kami salah mengajak nila? sedang kita sedang ingin bertemu, sesekali saya teringat kebahagiaan aku dengan istriku, kemudian menangis dan bercerita dalam pelukan dengan nila, apa yang dulu aku ingin tertawa sekarang. Larut kesedihan lebih buruk, sedang saya bersama dengan teman yang super membuat saya bahagia, dan tentu cinta saya  ada disamping saya.
Apa gerangan membuat nila diam dan terus diam, yuli semakin tak mengerti tentang keadaan ini, akupun beberapa kali berusaha menghapus diamnya, sayang hal itu seperti menghapus hitam malam. Semakin aku bertanya padanya, semakin dia tegas menjawab dengan ucapan yang sama ‘aku tidak apa-apa’, kami semakin bingung dengan nila, dia tau bahwa saya datang hanya ingin bertemu, tujuan utama pasti. Tentu bukan untuk mengenang mendiang istriku (yang belum mati) tapi untuk mengingat janji kita, aku dan nila. Huft payahnya, lamunan seperti melamun, tapi pandangan dia tak pernah kosong jika dihabiskan dalam lamunan, kami tak tau apa yang ada dalam benak nila, dingin paralayang batu masih kalah dengan dinginnya sikap diam nila, bukankah lebih baik kamu marah-marah terus kepadaku, dari pada kau diamkan aku, lebih sakit, aku yakin bahkan untuk kita berdua.

Ya sampai juga saya di hotel, membayangkan lagi kegagalan saya berada dikota ini, apa dia? Kenapa dia? Nila apa aku menyakiti atau mengganggu sibukmu? Atau apa? Salahku atau salahmu? Aku tak pernah tahu, mungkin kamu berada pada tingkat sensifitasmu, moodmu sebagai wanita yang menginginkan diam, kamu tak mengerti perasaanku yang jauh ingin bertemu, menunggu momen malang yang selalu saya impikan, hanya untuk kamu, sedang kamu serasa jijik dan diam. Aku selalu mengajak kamu bicara, mengajak kamu tertawa, tapi kamu diam dan diam, apa wanita selalu seperti itu. Mungkin ada salahku yang selalu mengajakmu tertawa, dan mungkin kau mengajakku untuk diam, tapi aq tak memahami.