Kamis, 14 Maret 2013

Mungkin Tidak

Sepertinya aku harus berlari ke Bandung menjelaskan perasaan kecilku kepadanya, tapi senyumanku saat ini tak mendukungku, aku mulai bersajak indah tentang penyesalan, terselubung semuanya dalam ketakutan, aku pandangi wajah-wajah sahabatku yang takmampu meredam ketakutanku. Saat ini aku ingin memeluk seseorang yang jauh, saat ini aq ingin menggenggam dan membisikkan kepada seseorang yang dekat, aku ingin memastikan kalau hal ini adalah indah, tapi keindahan itu menjadi bias karna sesungguhnya hanya ketakutan. dia ada karna masa laluku ada padanya, bukan semuanya, hanya satu dari tigapuluh, dan itu lalu.

Dia bersinar lagi dengan nada yang menggetarkanku, tertulis nama yang sangat jelas bagiku, aku takragu untuk membukanya, aku tahu saat ini memang sedang panas, di Bandung ataupun di aceh, begitupula di hati kita perempuan! Terlihat bintang yang tak terlalu banyak sesaat sebelum aku baca kata-kata penghias paragrafmu. Bandung kenapa kau terlalu jauh disana, sehingga saat ini aku takmampu membelanya dengan kata-kataku dan tatapan mataku, aku tahu kau menangis meski tak terlukis didalam kata-katamu. Kau kuat aku yakin sayang kau kuat, tapi aku tak mampu berfikir seperti itu! lima, enam, tujuh pesan singkat yang kau kirim menceritakan kemurunganmu dengan kekuatanmu. Bersalahkah aku? Berdosakah aku? Tak mampu membelamu disaat seperti ini!

Kau mendua? Apa aku? Tapi kita telusuri kenyataan yang ada, kita baca kenyataan yang ada, dari sudut mana kau katakan kau salah atau aku salah! Dan semua menjadi tangisan bagimu, menjadi kesalahan bagiku! Andai kau tak ceritakan tentang kedekatanmu dengan pria itu, andai kau tak ceritakan tentang dijodohkannya dirimu, andai hanya menjadi pemberat bagiku, bagimu juga! Aku hanya memendam perasaan yang menjadi cerita lucu saja dikehidupan kita, disaat kita takmampu menyatukan ego kita karna logika kita yang berbicara terlalu kasar. Kita tak mampu dan aku yang lebih dulu memilih pilihan yang kita tawarkan!

           Sulit memejamkan mata ketika panas dan dingin, fisik ini tak bisa merasakan panas malam karna diguyur hujan, sesaat terdengar petir. Beberapa kali aku fikir apakah ini hujan lebat atau hanya gerimis yang berbadai, tapi aku rasa itu sangat konyol ketika aku tak mengerti arti konyol yang ada. Kesalahan memang dekat dengan penyesalan, meski tak semua penyesalan berawal dari kesalahan, ataupun sebaliknya. Apa yang sekarang dia rasakan! Sudah tidur atau masih bersedih! Pertanyaan dengan penegasan adalah salah, bukan karna point penegasan itu, tapi inti sebenarnya yang aku pertanyakan adalah salah, ya tentu dia sudah tertidur setelah tadi dia menjelaskan makna dari pesannya bahwa dia kuat, sok kuat yang lebih tepatnya. Tapi salah lagi jika aku berusaha tidur malam ini, karna itu tidak mungkin. Sama halnya dengan kita, tidak mungkin!

Mengingat kali pertama bulan sabit bercerita tentang matahari yang tertutup awan, aku mendengarkan dan menguatkan dia, sesering mungkin aku meniup-niup awan-awan yang menutupi matahari, tentu karna ingin melihat senyum bulan kecil ini. Sesekali aku takut aku menjadi bintang, tetapi kenapa aku harus takut, bukankah menjadi bintang itu wajar. Kewajaran ini memang mungkin, karna belum menjadi peristiwa. Dan kewajaran itu menjadi nyata ketika dia berego menjadi purnama, dan aku tahu aku sekarang menyingsikan matahari itu, kini matahari itu bagi dia sama halnya planet lain, aku bintang dan aku banyak! Ketakutan adalah sebuah kebodohan pada waktu itu, dan aku yang terkuat bahkan hanya dengan duduk berantai!

Ketika keadaan itu sudah menjadi hal yang wajar, aku adalah dia dan dia adalah aku, aku faham dia ada setiap saat ketika aku ada, begitupun sebaliknya. Terkadang kata ada itu cukup menjebak profesional kita bagi pengagum cinta. Tak memberi kabar dan tidak bertanya kabar dikatakan aku tidak ada untuknya, sebenarnya aku selalu ada dan ada setiap saat dan itu untuk dirimu, itu kataku. Sedangkan kata hadir bisa digunakan disaat seperti ini, aku ada tetapi aku tidak hadir, aku tak memberi kabar berarti aku tidak hadir, bukan karna aku lupa atau aku tak cinta! Masa bodoh itu telah berlalu. Tapi itu menjadi masalah buatku. Masalah memang berbeda dengan penyesalan!

Kenapa aku harus melepasnya, padahal aku tak mencintai lainnya, aku tahu aku mencintainya, begitupun dia. Aku cowok, aku lebih tenang dan lebih santai ketika merasa cinta, aku juga tak menuntut untuk telpon dan akupun pilih waktu yang benar tepat untuk menelpon. Mungkin hal ini lebih indah dijalanNya, untuk kita. Kini kita mampu membagi kisah kita ke orang yang berbeda. Bukankah fase cinta itu ada, ketika pasang dan ketika surut, sedang kita mengalami mas surut yang terlalu lama, cinta yang sebenarnya belum kita rasakan layaknya pengantin muda, ketika surut masih dapat dibendung dengan kepercayaan, sedang kita mengalami masa tinggi ketika kita bertemu. Dan kapan kita bertemu terakhir kali? Bukankah itu terlalu lama bagi kita!

Sedang yang aku tahu cinta menguatkan kita, semua terkadan menjadi kontradiksi satu sama lainnya, dan bahkan aku sendiri merasa mampu untuk saat ini, meski beberapa saat yang lalu aku tak mampu, merasa mampu kalau kita bisa bersenggama dalam cinta meski jarak membedakan kita, sedang kita tidak berbeda dengan apa yang ada. Ketika ada kata tidak mungkin yang telah terucap untuk beberapa kalimat, padahal kalimat itu adalah kalimat rindu, sedang aku tak mengerti ketika keegoan atau merupakan harga diri yang lebih menguasai dari pada rasa yang ada, mungkin ketika rasa yang menjadi kuat dari pada ego, hati yang lebih kuat dari pada pikiran atau mereka seimbang pencipta super ego, mungkin keindahan akan ada meski sakit, itu bukan tidak mungkin, tapi bisa jadi kalimat tanya, “mungkin tidak?” ya tentu jawabannya adalah iya! Itu sangat mungkin

Aku yakin kita belum mencapai titik dewasa, karna kedewasaan itu bukan merupakan suatu tujuan, bukan merupakan suatu tempat selesai ketika kita mencapai titik itu, tau bahkan kedewasaan itu sebenarnya tidak ada, entahlah itu masih abstrak, sedang tugas kita adalah terus mengejar, karna hanya dengan mengejar kita tahu kedewasaan kita kurang, sedang kekurangan itu tidak bisa disempurnakan, tapi bisa diperbaiki dan ditambah, itulah sebabnya tidak ada definisi yang kongkret tentang kedewasaan.

Tak terasa manis, juga tak pahit, aku tahu kamu belum tidur, dan kita saling takut untuk memberi kabar, kamu emosi dalam kesedihan, sedang penyesalan dalam kesedihan yang aku rasa. Kita sama-sama bersedih. Semoga hanya malam ini kesedihan itu ada, itu do’aku meski takkan pernah terkabul. Sudah hampir jam 12.30 malam, bisa dikatakan pagi, tak terasa manis waktu ini, dan aku harus pergi bekerja, ditengah malam dingin.

Hai wanita disana aku disini mendengar tangisanmu, jangan kau memuntahkan semua egomu padaku, kau tentu ingat matahari lalu, dia si matahari itu meminta ma’af padaku, maaf itu tak pernah terucap, tapi dia merasa telah merusak apa-apa yang terjadi kepada kita, dia merasa dan tetap merasa. Maaf, ada seribu makna yang membelenggu didalam kata maaf, kita tidak tahu apa itu, tapi hal itu dapat melegakan hati kita. Matahari, matahari selalu memikirkan apa-apa yang terjadi kepada kita, meski aku bintang tak pernah tahu, meski kau bulan tak pernah tahu! Dan semoga kita faham aku bintang dan kamu bulan, faham apa yang dirasa matahari.

Sabtu, 09 Maret 2013

kacau

Ringkas cerita... semua memang sudah kutentukan arah yang aku mau, bahkan untuk menutup mata dengan pasti aku rencanakan dengan sedemikian rupa, mulai dari baju yang akan aku pakai, dimana aku akan tidur, dalam keadaan apa, jam berapa, kenapa aku harus tidur, dan untuk apa aku harus tidur jam segitu, apakah sudah tidak ada lagi yang harus aku lakukan sehingga aku harus tidur pada jam segitu, atau masih ada banyak pekerjaan tetapi aku masih melanjutkan waktu tidurku tersebut. Itu adalah suatu rencana tidur, belum rencana yang lain yang lebih penting!

Ada saatnya pula aku harus memikirkan hal-hal bodoh yang tak harus dipikirkan, tapi pada saat yang lain hal itu memang perlu dipikirkan. mengagendakan sesuatu memang sering aku lakukan, tetapi sering aku rubah atau berubah sendiri. bukankah ini adalah kekonyolan dari diriku, atau dirimu yang memang suka kekonyolan yang aku buat! apa-apa yang sudah aku rencanakan berjalan dengan baik, tapi seringkali gagal atau meleset dari tahapan-tahapan yang telah aku rencanakan. Ada faktior-faktor tertentu yang membuat dia tak menjadi goal. yang aku rencanakan sering gagal, yang tidak aku rencanakan! Apapula itu!

seperti halnya menulis tulisan ini adalah bagian yang tidak aku rencanakan! kacau dan tidak beraturan! kenapa aku menulis inipun tidak aku ketahui. Dan yang aku ketahui, semakin lama aku dalam kekacauan, semakin kacau pula aku!