Sepertinya
aku harus berlari ke Bandung menjelaskan perasaan kecilku kepadanya,
tapi senyumanku saat ini tak mendukungku, aku mulai bersajak indah
tentang penyesalan, terselubung semuanya dalam ketakutan, aku
pandangi wajah-wajah sahabatku yang takmampu meredam ketakutanku.
Saat ini aku ingin memeluk seseorang yang jauh, saat ini aq ingin
menggenggam dan membisikkan kepada seseorang yang dekat, aku ingin
memastikan kalau hal ini adalah indah, tapi keindahan itu menjadi
bias karna sesungguhnya hanya ketakutan. dia ada karna masa laluku
ada padanya, bukan semuanya, hanya satu dari tigapuluh, dan itu lalu.
Dia
bersinar lagi dengan nada yang menggetarkanku, tertulis nama yang
sangat jelas bagiku, aku takragu untuk membukanya, aku tahu saat ini
memang sedang panas, di Bandung ataupun di aceh, begitupula di hati
kita perempuan! Terlihat bintang yang tak terlalu banyak sesaat
sebelum aku baca kata-kata penghias paragrafmu. Bandung kenapa kau
terlalu jauh disana, sehingga saat ini aku takmampu membelanya dengan
kata-kataku dan tatapan mataku, aku tahu kau menangis meski tak
terlukis didalam kata-katamu. Kau kuat aku yakin sayang kau kuat,
tapi aku tak mampu berfikir seperti itu! lima, enam, tujuh pesan
singkat yang kau kirim menceritakan kemurunganmu dengan kekuatanmu.
Bersalahkah aku? Berdosakah aku? Tak mampu membelamu disaat seperti
ini!
Kau
mendua? Apa aku? Tapi kita telusuri kenyataan yang ada, kita baca
kenyataan yang ada, dari sudut mana kau katakan kau salah atau aku
salah! Dan semua menjadi tangisan bagimu, menjadi kesalahan bagiku!
Andai kau tak ceritakan tentang kedekatanmu dengan pria itu, andai
kau tak ceritakan tentang dijodohkannya dirimu, andai hanya menjadi
pemberat bagiku, bagimu juga! Aku hanya memendam perasaan yang
menjadi cerita lucu saja dikehidupan kita, disaat kita takmampu
menyatukan ego kita karna logika kita yang berbicara terlalu kasar.
Kita tak mampu dan aku yang lebih dulu memilih pilihan yang kita
tawarkan!
Sulit
memejamkan mata ketika panas dan dingin, fisik ini tak bisa merasakan
panas malam karna diguyur hujan, sesaat terdengar petir. Beberapa
kali aku fikir apakah ini hujan lebat atau hanya gerimis yang
berbadai, tapi aku rasa itu sangat konyol ketika aku tak mengerti
arti konyol yang ada. Kesalahan memang dekat dengan penyesalan, meski
tak semua penyesalan berawal dari kesalahan, ataupun sebaliknya. Apa
yang sekarang dia rasakan! Sudah tidur atau masih bersedih!
Pertanyaan dengan penegasan adalah salah, bukan karna point penegasan
itu, tapi inti sebenarnya yang aku pertanyakan adalah salah, ya tentu
dia sudah tertidur setelah tadi dia menjelaskan makna dari pesannya
bahwa dia kuat, sok kuat yang lebih tepatnya. Tapi salah lagi jika
aku berusaha tidur malam ini, karna itu tidak mungkin. Sama halnya
dengan kita, tidak mungkin!
Mengingat
kali pertama bulan sabit bercerita tentang matahari yang tertutup
awan, aku mendengarkan dan menguatkan dia, sesering mungkin aku
meniup-niup awan-awan yang menutupi matahari, tentu karna ingin
melihat senyum bulan kecil ini. Sesekali aku takut aku menjadi
bintang, tetapi kenapa aku harus takut, bukankah menjadi bintang itu
wajar. Kewajaran ini memang mungkin, karna belum menjadi peristiwa.
Dan kewajaran itu menjadi nyata ketika dia berego menjadi purnama,
dan aku tahu aku sekarang menyingsikan matahari itu, kini matahari
itu bagi dia sama halnya planet lain, aku bintang dan aku banyak!
Ketakutan adalah sebuah kebodohan pada waktu itu, dan aku yang
terkuat bahkan hanya dengan duduk berantai!
Ketika
keadaan itu sudah menjadi hal yang wajar, aku adalah dia dan dia
adalah aku, aku faham dia ada setiap saat ketika aku ada, begitupun
sebaliknya. Terkadang kata ada itu cukup menjebak profesional kita
bagi pengagum cinta. Tak memberi kabar dan tidak bertanya kabar
dikatakan aku tidak ada untuknya, sebenarnya aku selalu ada dan ada
setiap saat dan itu untuk dirimu, itu kataku. Sedangkan kata hadir
bisa digunakan disaat seperti ini, aku ada tetapi aku tidak hadir,
aku tak memberi kabar berarti aku tidak hadir, bukan karna aku lupa
atau aku tak cinta! Masa bodoh itu telah berlalu. Tapi itu menjadi
masalah buatku. Masalah memang berbeda dengan penyesalan!
Kenapa
aku harus melepasnya, padahal aku tak mencintai lainnya, aku tahu aku
mencintainya, begitupun dia. Aku cowok, aku lebih tenang dan lebih
santai ketika merasa cinta, aku juga tak menuntut untuk telpon dan
akupun pilih waktu yang benar tepat untuk menelpon. Mungkin hal ini
lebih indah dijalanNya, untuk kita. Kini kita mampu membagi kisah
kita ke orang yang berbeda. Bukankah fase cinta itu ada, ketika
pasang dan ketika surut, sedang kita mengalami mas surut yang terlalu
lama, cinta yang sebenarnya belum kita rasakan layaknya pengantin
muda, ketika surut masih dapat dibendung dengan kepercayaan, sedang
kita mengalami masa tinggi ketika kita bertemu. Dan kapan kita
bertemu terakhir kali? Bukankah itu terlalu lama bagi kita!
Sedang
yang aku tahu cinta menguatkan kita, semua terkadan menjadi
kontradiksi satu sama lainnya, dan bahkan aku sendiri merasa mampu
untuk saat ini, meski beberapa saat yang lalu aku tak mampu, merasa
mampu kalau kita bisa bersenggama dalam cinta meski jarak membedakan
kita, sedang kita tidak berbeda dengan apa yang ada. Ketika ada kata
tidak mungkin yang telah terucap untuk beberapa kalimat, padahal
kalimat itu adalah kalimat rindu, sedang aku tak mengerti ketika
keegoan atau merupakan harga diri yang lebih menguasai dari pada rasa
yang ada, mungkin ketika rasa yang menjadi kuat dari pada ego, hati
yang lebih kuat dari pada pikiran atau mereka seimbang pencipta super
ego, mungkin keindahan akan ada meski sakit, itu bukan tidak mungkin,
tapi bisa jadi kalimat tanya, “mungkin
tidak?” ya tentu
jawabannya adalah iya! Itu sangat mungkin
Aku
yakin kita belum mencapai titik dewasa, karna kedewasaan itu bukan
merupakan suatu tujuan, bukan merupakan suatu tempat selesai ketika
kita mencapai titik itu, tau bahkan kedewasaan itu sebenarnya tidak
ada, entahlah itu masih abstrak, sedang tugas kita adalah terus
mengejar, karna hanya dengan mengejar kita tahu kedewasaan kita
kurang, sedang kekurangan itu tidak bisa disempurnakan, tapi bisa
diperbaiki dan ditambah, itulah sebabnya tidak ada definisi yang
kongkret tentang kedewasaan.
Tak
terasa manis, juga tak pahit, aku tahu kamu belum tidur, dan kita
saling takut untuk memberi kabar, kamu emosi dalam kesedihan, sedang
penyesalan dalam kesedihan yang aku rasa. Kita sama-sama bersedih.
Semoga hanya malam ini kesedihan itu ada, itu do’aku meski takkan
pernah terkabul. Sudah hampir jam 12.30 malam, bisa dikatakan pagi,
tak terasa manis waktu ini, dan aku harus pergi bekerja, ditengah
malam dingin.
Hai
wanita disana aku disini mendengar tangisanmu, jangan kau memuntahkan
semua egomu padaku, kau tentu ingat matahari lalu, dia si matahari
itu meminta ma’af padaku, maaf itu tak pernah terucap, tapi dia
merasa telah merusak apa-apa yang terjadi kepada kita, dia merasa dan
tetap merasa. Maaf, ada seribu makna yang membelenggu didalam kata
maaf, kita tidak tahu apa itu, tapi hal itu dapat melegakan hati
kita. Matahari, matahari selalu memikirkan apa-apa yang terjadi
kepada kita, meski aku bintang tak pernah tahu, meski kau bulan tak
pernah tahu! Dan semoga kita faham aku bintang dan kamu bulan, faham
apa yang dirasa matahari.