Selasa, 17 Juli 2012

AKU ADA

Aku terbangun dari tidurku, kurasakan badan masih sangat lemas, mata masih mengantuk memandangi pekarangan rumah kekuning merahan matahari pagi, pipi kiriku keriput tertindih kepalaku saat tidur, aku sadar aku masih memakai pakaian langsungan dengan rokku, dengan motif bunga-bunga warna merah kuning yang cerah.tanganku masih dengan gelang hitam pemberian ayahku kala aku berumur tujuh tahun 15 tahun yang lalu, sekarang gelang itu mempunyai  beberapa teman dengan warna yang berbeda di tangan yang sama, sedangkan ditangan kanan masih aku pakai jam tangan hitam yang menunjukkan pukul 7.15 tetap, juga gelang kaki pemberian ibuku saat aku berumur 18 tahun, gelang kaki yang cukup besar untuk dipakai, tapi karna ini pemberian ibuku, aku tetap memakainya.

Aku tinggal bersama Nenek di rumah kecil, aku sendiri tidak tahu nama nenekku, orang-orang memanggilnya bi’yem, aku tak tahu pasti umurnya, tapi dulu dia sering bercerita tentang orang-orang dan jajahan jepang, ibu nenek mati ditembak orang jepang dan tinggal hanya dengan ayahnya yang sering mengajak dia bersembunyi, sampai-sampai dia pernah bersembunyi didalam pembuangan kotoran, tak bernafas selama beberapa menit didalam air bercampur kotoran manusia. terkadang dia bersembunyi di gua dan tidur disana saat orang-orang jepang mencari penduduk pribumi. Dan sekarang wajahnya diwarnai dengan keriput-keriput coklat dengan bintik-bintik hitam, untuk jalan saja dia meminta tolong kepada sedepa kayu, itupun masih tertatih-tatih.

ayahku pergi bekerja jauh tidak tahu dimana dia, tak pernah tahu kabarnya, tetapi dia masih hidup, karna aku sering menemuinya dalam mimpiku, dia tertawa sangat keras membuat aku takut dan aku menjerit, setelah aku menjerit dia pasti diam dengan matanya menatapku tajam, aku ikut diam dan terkadang aku menangis, setiap kali aku bertemu ayahku itu didalam mimpiku. Sedangkan ibuku aq sendiri tidak tahu dimana dia berada, terakhir kali dia pulang dengan membawa anak kecil yang menangis sangat keras ketika melihatku, aku tidak tahu anak siapa itu, akupun malah berteriak-teriak karna aku membenci tangisan ataupun suara yang sangat keras. Tidak ada satu jam ibuku pergi tak menyapaku, aku hanya melihat diteras rumah yang sangat panas ini.

‘ini makanlah nasi ini, sudah seharian kamu belum makan’ sesosok wanita tua menyuruhku makan, aku tak menjawab ucapan nenekku, aku sudah malas menjawabnya, tiap aku bangun pasti disuruhnya makan, dan perkataanya sama, saat pagi dia selalu berkata belum makan seharian, mungkin sudah tua dan tolol, sampai aku bosan mendengar ocehannya tiap pagi. Tetapi terkadang aku makan nasi itu kala aku sangat lapar, tetapi juga aku biarkan bersama lalat-lalat yang lebih lapar dari pada aku.

Pagi ini cukup ramai, tak seperti kemarin-kemarin, anak-anak kecil bermain di jalan depan halaman rumahku, ada lima anak kecil memandangiku cukup tajam dengan tangannya diacungkan keatas, aku tidak tahu apa yang mereka katakana kepadaku, aku tak peduli dengan itu, aku sibuk melihat kancing bajuku yang lepas dan berusaha menempatkannya pada tempatnya, dan pada akhirnya aku tak bisa melakukannya, masa bodoh. Dua kerikil kecil bergulir didepanku, aku lihat anak-anak kecil tadi melempariku dengan batu itu, aku paling benci melihat anak kecil, apalagi pada pagi hari seperti ini, ingin aku lempari dengan batu-batu yang besar, tapi aku malas mengambilnya, jadi aku teriyaki saja mereka dengan suaraku yang kata nenek sangat keras, dua, tiga, empat kali teriakan makianku tak membuat mereka jerah, aku berteriak sekali lagipun mereka tetap berada didepan sana, aku benar-benar marah, mereka tidak tau emosiku sangat besar hari-hari ini, persetan dengan mereka semua.

Dua cowok berdiri didepan teras rumah, sangat terlihat jelas wajah mereka. Mereka membicarakan sesuatu dengan melihat ke arahku, dan kemudian mereka tertawa. Satu diantara mereka mendatangiku, sangat tampan memang cowok ini, dengan jelana jeans memakai kaos hitam dengan kulit sawo matangnya, aroma parfumnya kalah dengan asap rokok yang dibawahnya. ‘siapa namamu?’ tanyanya tak sadar aku dia sudah ada didepanku, aku diam saja takut melihat wajahnya! ‘siapa namamu?’ tanyanya lagi dengan nada yang tinggi yang membuatku semakin takut, aku masih diam dan memegangi tiang rumahku yang terbuat dari kayu. ‘kau bodoh ya, kasian kamu’ nadanya sangat jelas meski dengan tertawa dia berbicara seperti itu. Aku pegangi kayu penyangga itu dengan eratnya. Dia berdiri dan berbalik sambil tertawa meninggalkanku ‘bodoh, bodoh, bodoh’ tawanya mendekati temannya yang masih berdiri diluar sana.

Apakah aku bodoh? Kenapa aku tak menjawab pertanyaannya dan malah merasa takut! Aku bingung dengan semua ini. Tapi dia yang bodoh, tak sopan dan langsung menanyaiku, emosi juga pada pertanyaan yang keduanya. Tapi seharusnya aku tak takut dan menjawabnya, atau lebih baik aku meneriakinya ketika dia berkata bodoh. Tuhan mempunyai banyak ilmu, tapi tidak diberikannya kepadaku, aku berfikir kembali mungkin Tuhan tidak berilmu dan tak mampu memberikan ilmunya kepadaku. Ah masa bodoh, yang bodoh bukanlah aku. Dia yang bodoh, menanyaiku dengan nada seperti itu, tak punya sopan santun, sudah begitu langsung menyerah, dasar cowok pengecut , setan brengsek!

‘hei namamu siapa?’ aku terkejut dan mengeratkan tanganku serta memeluk tiang itu, cowok kedua tepat dihadapanku memecahkan lamunanku. ‘hei.. kenapa kamu terkaget, gak usah takut!’ dia masih berusaha mendapatkan namaku dengan sopannya. Tetapi aku masih takut, semua cowok itu sama saja. ‘kenapa kamu takut?’ aku diam tak menjawab, beberapa detik dalam keheningan. ‘hei cantik, nama kamu siapa?’ ‘kenapa tidak dijawab?’ ‘kamu takut apa?’ ‘kenapa kamu diam saja?’ ‘halllo heii namamu siapa?’. Semakin ditanya aku semakin bingung, aku benci dengan bualan-bualan, maksa terus dengan pertanyaannya yang gak jelas apa maksudnya. ‘pergi, pergi, pergi, haaaaaaaaaaaaaa’ aku teriaki cowok ini yang semakin membuat aku bingung. ‘dasar bodoh week, gila, bodoh,hahahaha’ tertawanya dia meledekku dan berjalan kearah temannya akupun masih terus menghujaninya dengan teriakanku itu.

Aku memang membenci semua cowok-cowok, bahkan aku sekarang membenci ayahku. Semua cowok memang bangsat, bajingan, preman semua, mata keranjang, najis, munafik, tolol, bego, politik, lidah anjing, jancok, taik, pokoknya semua kejelekan ada di cowok, kenapa gak cewek saja yang diciptakan kebumi, kenapa bukan hawa saja, kenapa harus adam yang dengan nafsunya menginginkan cewek, seandanyai hawa saja, aku yakin dia bisa mengontrol nafsunya, dan tak menginginkan manusia cowok didunia, yang kerjaanya hanya nafsu saja, uang dan seksual, merampok, mencuri, korupsi dan memperkosa.

Teringat para bajingan merobek bajuku saat malam itu, lima orang dengan wajh kepulan asap-asap anjing menganiayaku dengan nafsu yang membara, memasukkan kelaminnya ditempat yang takseharusnya, aku hanya bisa menangis sakit dengan darah. Tertawa saja mereka saat tubuhku takkuasa lagi karna terlalu capek berontak. para bajingan-bajingan tak tahu ayat-ayat Tuhan yang tak suci lagi, para bajingan memang tak bermoral. Itulah kenapa aku sangat membenci bajingan-bajingan yang mereka itu adalah cowok semua, dan membuat kondisiku seperti ini, terkadang aku tak mengerti apa-apa dengan tertawa mereka, tertawa anak-anak kecil yang seringnya melempariku, tertawanya ibu-ibu yang melewati halaman rumahku, tertawanya para bajingan termasuk dua bajingan itu tadi.

Manusia-manusia itu tak mampu memahami diriku, itu memang salah diriku yang takmampu memahami mereka. Aku  benci tapi persetan dengan mereka, meskipun mereka baik memberiku minuman dingin tapi mereka menyiramkan diwajahku, mereka tahu aku takkan marah, aku sangat sabar dengan diamku, mereka juga tahu jika aku teriak itu hanyalah teriakan dan mereka menyadari hanyalah ketidak sengajaan jika air dingin itu tersiram di wajahku. Baiknya mereka para lelaki-lelaki bajingan tekadang membantuku menggaruk pantatku atau dadaku yang gatal, baiknya ibu-ibu yang sering memandikan aku dengan guyuran air langsung saat aku teriak-teriak, aku sangat senang adanya mereka, terkadang aku sendiri bingung dengan kenapa mereka baik, kenapa merek tertawa-tawa melihatku. Kata mereka aku cantik, ya aku memang cantik, saat aku masih sekolah aku selalu menjadi pujaan para cowok-cowok satu sekolah, aku selalu menjadi putri saat ada pementasan drama. Terimakasih para ibu-ibu yang baik, anak-anak yang suka mengajakku bermain kelereng, terimakasih juga kepada para bajingan yang sering membantuku menggaruk-garuk tubuhku.

***

Pagi ini sangat cepat berjalan, saya rasakan Cuma dua jam saja, tetapi matahari sudah hilang, mungkin mendung atau terlalu cepat waktu dan mau kiamat, seperti apa yang diceritakan buku saat aku smp, tanda kiamat salah satunya cepatnya waktu berjalan, tapi aku tidak pernah sholat, aku sendiri lupa caranya, tak tau lagi arah kiblat, yang aku lakukan hanyalah melihat manusia-manusia dengan kesibukan mereka lalu lalang didepan rumahku.

Lampu sudah menyala semua, aku takut malam, aku benci, aku ingin teriak sepanjang mala mini, aku ingin berteriak sampai ada wanita yang mendatangiku, tak perlulah dia mengajak aku berbicara, cukup dengan memarahiku saja aku sangat senang, biar mereka tahu ada aku disini, aku memandangi mereka, dan mereka harus memandangiku. Aku ingin adanya teman, aku ingin orang menganggapku ada.

Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, cowok bajingan, haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, bangsat kalian semuaaaaaaaaaaa, kau lupa dengan kitab berdebu karya tuhanmu yang kalian tulis ulang, bansaaaaaaaaaaaaaattttt, bajingan.

***