Kamis, 23 Oktober 2014

DUSTA


Adakah hal lain
Kau cetuskan dengan beberapa tetes hujan
Cukup beberapa
Tapi jangan dua, satu
Bukan pula dua puluh atau sepuluh

     Bisikanlah, bisikkan
jangan lantangkan
cukup kita dalam kebodohan
atau ingin kau lantangkan dengan jantan!
Terserah, tentang kita terasa pilu

Apa mentari tak malu
Sekali muncul, lima, delapan kabut menyelimuti
Atau bahkan awan
Kau hamper tinggi mentari, sedikit lagi
Apa jawabmu? Menanggung semua malumu

     Lantas bumi telah kau janjikan
Mentari kuasakah kau berdusta?
Atau bumi, kau suruh kabut dan awan itu
Lantaran dusta kalian tak bisa ditentukan
Apakah ada hal yang salah kpada keadaan kalian yang salah!

Sayangnya hal itu hujan
Dan hujan tak memberi  kesempatan
Dengan bisikan atau suara lantang
Menutup sinar dan bumi
Apa basah membiarkanmu tetap berdiri?

KEMBARANKU ADALAH PRIA

Dunia spiral, betapa berputarnya dia, tak mengerti aku, memikirkan bagaimana proses berputanya, berputar pada porosnya sendiri, atau berputar pada poros matahari. Suatu kenampakan atas dasar tak nampak, berjalan karna gravitasi, atau terlihat karna hukum relativitas, entahlah. Sesempatnya hal itu membuat aku pusing. Tak berbeda pula dengan keadaan realita yang ada. Coba bayangan sosok kita, jelas didepan cermin, yang terlihat bukan sosok kita, melainkan orang lain, sedemikian itu hal yang aneh yang menentang logika kita.

Sepaket labirin terinstal jelas di kepalaku, aku kebingungan mencari jalan keluar, tentu tak bisa aku memanjat halus tembok pertembok dalam labirin itu, sedang jalan keluar tak mungkin aku temukan dengan mudah. Baiklah, mulai dengan fisikku perempuan kecil berkacamata, tak tinggi tentu pendek, dengan beberapa kebodohan yang ada diwajahku, sesekali serius aku terlihat jenius. Tapi sayangnya sosok itu mati seketika kala cermin memantulkan diriku yang bukan diriku, atau itu seorang aku yang nyata? Tentu saja bukan, salah jika hal yang sedemikian itu aku pertanyakan kembali. Jelas itu bukan aku.

Pria kurus tinggi, berkumis tipis, berjenggot dengan mata sayu, wajah kering seakan aspal di padang arafah, sosok itu yang menjadi aku dalam pantulan cermin. Lantas nyata aku adalah sesosok wanita, sedang siapa dia? Aku dalam bayangan yang tak mungkin, apa mata salah? Atau cermin ini hanya ilusi? Entahlah.

Ah sial, apakah aku masih dalam lamunan tidurku, tidur sore 1 jam yang terasa sangat berat, tapi hal ini nyata, kenyataan menentang logika, sosok aku adalah aku, apa ini aku, seorang pria di cermin, atau aku wanita kacamata kecil. apa kita sama? tentu beda! tapi.....

PETANG DAN GELAP

Coba rasakan tuhan, bukankah engkau yang memberikan semua rasa yang tercipta kepada semua manusia. lantas jika kau pusat dari keindahan itu sendiri, kenapa kau ciptakan rasa sakit yang lebih. Pernah kau merasa sakit atau tersakiti! Aku tahu kau tak akan menjawabnya.

Memusingkan segenap dari mata manusia, penciptaan atas kedekatan rasa cinta dengan rasa sakit. Kenapa begitu dekat, tak ada sejengkal, tak ada semili meter. Lantas bagaimana kita para manusia harus memisahkan hal yang seperti itu. Mengerti tentang cinta aja tidak, dan mereka sok mengutarakan definisi  cinta, tentu dengan versi yang mereka miliki, mempunyai stereotype personal, dari pengalaman mereka! Lantas kalian mau samakan cinta kalian dengan cintaku, ya karna kita sangat berbeda dalam cerita yang ada.

Sadarila, kita, dan cerita kita sangat berbeda