Rabu, 23 November 2016

Menikah, irul?

Tentu iyalah, siapa juga yang tak menginginkan pernikahan besar, kebanggaan dan keinginan setiap orang yang ada, yang hidup, yang punya pacar, bahkan jomblopun mengandai-andai ingin merayakan pernikahan besar, meski wajah calon belum ada, mungkin ada tapi disensor, atau ada dengan wajah tetangga mereka sendiri, teman kelas pas sekolah, atau parahnya lagi para jomblo bayangin mempelainya adalah pacar atau bojo orang lain. Hal yang wajar jika setiap kepala orang menginginkan pernikahan besar, sebagai simbol kesuksesan bekerja mungkin, gengsi juga bisa, ingin sepenuhnya merayakan moment 1x seumur hidup, meski para cowok berkhayal lagi bahwa ada pernikahan lagi, hahaha, naluri seorang lelaki. Apapun akan diadakan kalau ingin merayakan pesta pernikahan, dengan undangan sebanyak-banyaknya, kue sebesar-besarnya, suguhan makanan yang mahal, berkat, artiannya apa ya untuk kata berkat? Disini adalah jajanan yang diberikan kepada para undangan saat mereka meninggalkan dunia, meninggalkan tempat resepsi maksudnya, tempat luas dan megah (megah artian luas, bukan mega anaknya bu astri, atau mega yang putih dilangit dan jadi hitam kalau lagi galau).
Apalah, bahas masalah besarnya resepsi pernikahanku, tak kalah dengan besarnya pernikahan orang-orang kaya yang ada ditempatku, agak sombong sih, tapi kesombongan ini tak bisa saya banggakan, bagaimana bisa bangga, la wong saya juga ngutang, bagaimana tidak hutang! Ini tuntutan dari atik, atau lebih sopannya bu Atik, harus sopan, karna ini ibunya Ari, Ari itu saya, dan pasti bu Atik itu ibu saya. Beliau (read bu atik) gengsinya super besar, sebesar upil kering yang tak kamu bersikan selama 1 bulan, menutupi lubang hidungmu, sebesar itulah gengsi bu Atik, menutupi lubang malunya dengan gengsi, ‘pokoknya ibu mau pernikahan ini dilaksanakan sebesar-besarnya, dan….. undanganya harus banyak, limaratus orang lebih kalau bisa, pakai uang ibu, entar kalau kurang biar ibu yang cari’, itu celomet ibu,pakai uang ibu toh saya yang terbebani, jadi punya hutang sama ibu, apalagi kalau sampai pinjem orang, yah apalah ibu ibu ibu, ini bapak mah terima aja apa-apa yang diomongin ibu. Dan akhirnya memang super besar pernikahan ini, budget (tapi dibaca bajet) pribadi saya sangat sedikit, tapi masih mampu untuk beli krupuk, semua demi nyenengin ibu yang punya niatan nyenengin anaknya, tapi niatan aslinya mungkin lagi-lagi geng-si.
Para supporter LA Mania, pendukung persela datang menghadiri pernikahanku, juga tak lupa teman-teman bapak Kasmuji (mertuaku) para supporter Aremania juga datang memenuhi tribun utama dalam pertandingan pernikahan ARI dan LIA, ah.. apalah yang pasti sangat penuh sesak, seperti pasar pagi liar ditempatku, meski sering kena razia oleh pemerintah desa, tapi pasar tetap penuh sesak. Kembali lagi kepernikahan ini, pembengkakan pada keuangan akan semakin terlihat ketika dua tim photographer datang, gila brooooo gak Cuma satu tim saja, tapi 2 tim photographer, seperti 2 tim pendukung bola LA Mania dan  Aremania yang ikut mendukung pernikahan kita, photographer 1 tentu dari tim make-up yang kita sewa, sewa rias (make-up) sepaket dengan asesoris tempat plus dapat bonus 1 team photographer nikahan, tau sendirilah kualitas photographer nikah, asal wajah yang ada difoto cerah, mereka bilang bagus, eh tapi gak semua photographer nikahan seperti itu, astaghfirullah, saya berprasangka buruk, maafkan aku. Yang tim photographer kedua, adalah teman-teman hamba, kualitas dijamin keren dan langkah, didatangkan langsung dari dunia yang berbeda, jadi ya… aku sendiri bingung mereka ini darimana, hahaha, keren pastinya.
Pagi buta, si pagi ini mungkin kena katarak gak dioperasi, jadinya buta, lia sudah menjalani rias wajah dan memakai pakaian pengantin, coba bayangkan betapa cantiknya dia, belum dimake-up saja lesung pipitnya gak ada, apalagi pas setelah dimake-up, pasti gak ada, iyalah dia gak punya lesung pipi brooo, tapi sekali lagi bayangkan, jika wajahnya yang putih bersih berpadu dengan bedak tipis dan warna make-up, alisnya digambar dengan gambaran adat jawa, bukan gambar kekinian ditahun 2016 saya menulis ini. Saya mengintip sedikit, jangan banyak-banyak nanti ketahuan, lia sangat pasrah dengan si tukang make-up, wajahnya dicoret-coret pake kuas, di cat warna-warni, digambar, dihapus, digambar dan dihapus lagi, sempat aku emosi bagaimana bisa dia calon istriku pasrah dan wajahnya dijadikan kanvas yang seenaknya dicoret-coret si tukang. (tulisan diatas jangan dibayangin, saya saja yang bayangin, dosa jika kalian bayangin istri orang)
‘dek ari, dek ari’ terdengar suara kencang namun dengan nada halus.
‘oh injih’ artinya ‘oh iya’ saya jawabnya.
‘sudah hafal ijab qobulnya? Pakai bahasa Indonesia apa bahasa arab?’ kasmuji ternyata yang ngomong, itu belum jadi mertua ya.
‘oh sampun pak, niki kulo ngangge boso jerman’ oh sudah pak, ini saya pakai bahasa jerman.
‘huahahahaha’ ketawa dia, dan bersinar, taulah apa yang bersinar, aku gak mau nyebut, banyak dosa saya pada kasmuji ini.
‘qobiltu nikahahaa wa tajwijahaa bil mahril madkuur, lancar nggeh pak’ ngomongku sambil mesem alias senyum tipis-tipis.
‘buagus dek, jangan grogi ntar, latihan dulu sama bapak sini’ besar suara kasmuji ini, sebesar jidatnya yang mirip landasan pesawat.
‘entar kalau latihan sama bapak, takutnya jadi syah sama bapak, dan masak kita jadi suami istri pak!’ jawabku bercannda.
hahaha, cah  bagus, cah bagus, kamu ini bisa aja kalau ngajak bercanda’ kasmuji doyan dipuji, belum naik haji, sukanya nerima gaji.
‘ini pak kasmuji udah tau nama saya Muhammad Arifuddin, malah dipanggil bagus’ aku ini ngomong dihati hlo ya, gak saya ucapkan dengan mulut, INGAT NGOMONG DIHATI.
Sembari menunggu nyonya cantik Lia Nur Ratna di make-up, saya berlatih dengan professor kasmuji, sebetulnya dia Lulusan SMA, tapi kepalanya kayak professor penemu truk tinja, plus sedot WC.
*beberapa lama kemudian, sampai roti mulai jamuran, ibu tetangga pulang dari haji, dan pak jarwo nikah lagi*
Usai juga ijab qobulnya, dan saya syah beristrikan lia, kami duduk didepan bagaikan david beckham dan Victoria, bagaikan pangeran Charles dan putri Diana, bagaikan joko tingkir dan nyi retno ayu, bagaikan bagaikan bagaikan. Ada sesuatu yang mengganjal pikiran saya ketika melihat tamu undangan, bukan karena saya iri kepada pak prasetyo dan bu atik (bapak ibu saya), saya tidak iri karena ketika mereka nikah saya tidak diundang, bukan karena itu. Juga bukan karena anak kecil yang menangis, bukan juga karena bapak ibu guru saya dan pak yai pengurus podok yang datang (tak masuk akal jika bingung karena mereka, toh mereka diundang), tapi dibarisan mana teman-teman saya duduk, dan dibarisan mana teman-teman mantan saya duduk. Merasa berdetak kencang lagi ketika melihat wajah-wajah mereka, wajah-wajah teman-teman mantan, merasa canggung dan malu, apalah saya ini sebagai pendusta janji, atau sebagai penegas hati, sedangkan tentu dilihat sangatlah seperti banci.
Aku syukuri nila tak ada dibarisan mereka, meski mereka duduk dan tak berbaris, aku takut ada hujan jika nila datang, hujan dari mata tentunya, tentunya pula disertai suara gemuruh dari dalam hati tak terdengar ditelinga. Hehei jangan melamun, malulah didepan orang, ini bahagia kami dan hari kami, toh saya telah melupakan hal-hal itu kenapa harus mengingat lagi lantaran datangnya ikatan suci ini, kan terbalik jadinya. Sebab ini aku jadi goblok, padahal yang seharusnya goblok adalah mereka yang tak bersekolah, atau mereka yang tidak menyekolahkan anak-anaknya, hah terlalu sok pikiranku jadinya, duduk di atas mereka ini. Yang goblok lagi ketika saya pandangi wajah lia, dia juga melamun, apa coba yang dipikirkannya, saya berbisik kepadanya pelan ‘jangan dipikirin nanti malam, tenang saja’, seketika pula lia senyum dan mencubit sakit, dan faknya (tulisannya sebenarnya f*ck-nya, itupun masih salah, karna ada bintangnya) pak yai yang memberikan ceramah melihat tingkah kami, dan tentu dia bilang ‘toh masih pagi, sabar dulu jangan cubit-cubitan, malam masih lama’  kan malu jadinya tante…… seraya satu stadion bersorak.
Allah, padamkanlah mataku, jika aku terus melihat yang bukan hak’ku.
Setelah semua usai, berjabatlah kita, berpelukanlah kita, dengan teman-teman terdekat, 80% mereka ngomong selamat ya, selamat ya, semoga aku cepet nyusul, hah yang sisanya cuma senyum, yang sebagian kecil ngomongnya ‘cuk kon kebelet niggalno konco jomblo’,  ini yang paling menyakitkan bagi saya ketika yang ngomong adalah sahabat saya si irul, cowok dia, bukan cewek, kalau ada pembaca cewek jomblo biar bisa saya kenalin sama dia, paragraph selanjutnya saya ceritakan si irul, tapi kalau ingat.
Berapa lama kami berdua selalu bercerita tentang nasib kami, yang memang saya lebih mujur urusan cewek dibandingkan dengan si irul, selalu tertawa dalam ketidak puasan karena dia selalu sendiri, jomblo makmur. Seumur hidup dia pacaran mungkin 4x. pacar pertama irul, dia kurang tulus mempermainkan irul, ini versi teman-teman yang melihat mereka, toh juga yang cinta tak mungkin melihat orang, menasehati orang yang jatuh cinta itukan percuma, jadi main sindir halus saja kita, kadang kasar kayak ketika kalian jarang minum, dan eek kasar banget toh. Kalau pacar kedua irul ini keren, temen-temen pada setuju, tapi mereka end juga, faktornya si cewek bicaranya tinggi, mobillah, itulah, uang harta dll, tp toh kita semua dulu tinggal didesa yang panas, gak lucu ngomongin mobil gitu, kecuali kalau ibuku yang ngomong gak masalah, orang gengsinya besar dan memang menjadi sumber penghasilan orang tua, jual beli ataupun sewa mobil. Untuk pacar ketiga irul, dia balikan sama mantan yang pertama, temen-temen bilang… ‘kan tai…………’ hahaha, pasalnya irul terlalu polos untuk menghadapi bidadari selokan seperti dia. pacar yang terakhir ini agak keren, pacar khayalan, dan itu sampe sekarang, sebenarnya saya sendiri yang menganggap dia pacaran dengan pacar khayalan, karna kasihan dia kalau dikatakan jomblo, hahaha.
Goblok, mungkin kalian akan beranggapan seperti itu, memang terlihat goblok jika kalian membaca cerita dibawah ini, saya sendiri berpikir goblok tapi ini bukan bukti gobloknya lho,melainkan sisi polosnya yang tak mengenal dunia wanita saat itu. Kejadiannya ketika kita masih SMA dan irul itu kakak tingkat ari, ari itu aku lhoo, bukan ari yang lain, bukan juga ari mantannya yuli, nama yang sama tapi tentu tinggat kegantengannya jauh beda, gantengan ari akulah, mana mungkin ari itu gantengm aduh jadi ngomongin arii yang lain. Waktu itu aku pacaran sama orang, ya sama orang, bukan alien, dan irul suka atas temen pacarku, kata ‘atas’ sebelumnya terasa ambigu, kita ulang ‘dan irul suka temen pacarku’itu lebih baik. Aku dan teman-teman setuju aja kalau irul pendekatan ke dia, siapa yang gak setuju kalau teman dapat pacar temannya pacar, bingung nggak? Kalau temanku pacaran sama temennya pacarku, masih bingung? Pikir sendirilah.
Bermula waktu irul mulai mengirim pesan singkat atau biasa disebut SMS, irul mah pulsa dikit cari bonusan, hahaha. Setelah beberapa kali dia kirim sms, lama belum, barusan juga nggak, pokoknya baru 1 hari mungkin dia sms’an sama tersangka. Aq memberikan nasihat kepada irul, layaknya Mario teguh memberikan nasihat terhadap tv, ngomongin Mario teguh jadi ingat kepada kasmuji, hahaha.
‘Rul, jangan tergesah gesah ngomong suka dengan dia, kamu gak tau hidupnya, ada pacar atau nggak, bla bla bla…..’ itu ngomongku ke irul
‘iya’ dia jawab sambil senyum-senyum
‘coba kamu korek infonya dengan pelan’ tambahku lagi
‘eh dia ngomong gini, gimana ini boy’ sambil nyodorin hape ke muka aku, nempel deh
Kamu mau jadi pacar keduaku ta? Aku punya pacar, tapi gak masalah kalau kamu mau jadi pacar keduaku, pacarku gak akan marahku’
Anehnya dapat sms itu dia seneng banget ekspresinya, toh seperti nemuin uang 200ribu dijalan, aku tanya ke irul akhirnya
‘sebelumnya kamu sms apa rul ke dia?’ tanyaku dengan emosi
‘aku ngomong kalau aku suka sama dia’ jawab irul
Seketika itu langsung aq tempeleng kepalanya
‘goblok udah dibilang jangan ngomong suka, trus maksudmu apa, apa kamu mau jadi pacar keduanya?’ tanyaku dengan tangan masih melayang setelah nempeleng dia
‘iya nih masih bingung, enaknya gimana boy? Jawab dia dan tanya dia
‘gobloook, gitu masih dipertimbangkan, ah…ya jangan maulah’ sambil nempeleng lagi saya.
‘tapi boy’ ragu si irul
‘tapi apa, kamu jadi selingkuhannya dia, rendah banget harga dirimu, cinta aja belum, wes jangan mau, aku gak setuju’ jawabku dengan nada keras
Dia sedih dan kelihatan bego, betapa polosnya cagub ini, bukanlah calon gubernur, tapi cagub, cah guoblok, tapi bodohnya dia karna polos lho… ingat karena polos, aduh maaf mas irulku sayang, saudaraku sayang…. Aku harus nulis sisimu yang o’on banget ini.
Tersadar saya dari lamunan singkat, selesai sudah resepsi, dan menyandang status baru, saya sudah menikah, tolong dimengerti wanita-wanitaku, jika mataku jelalatan, ingatkan aku. Semoga imanku bertambah dan menjaga hubungan kami  dan mata kami. Amiiiinnnnnnn………..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar