Aku terbangun dari
tidurku, kurasakan badan masih sangat lemas, mata masih mengantuk memandangi
pekarangan rumah kekuning merahan matahari pagi, pipi kiriku keriput tertindih
kepalaku saat tidur, aku sadar aku masih memakai pakaian langsungan dengan
rokku, dengan motif bunga-bunga warna merah kuning yang cerah.tanganku masih
dengan gelang hitam pemberian ayahku kala aku berumur tujuh tahun 15 tahun yang
lalu, sekarang gelang itu mempunyai
beberapa teman dengan warna yang berbeda di tangan yang sama, sedangkan
ditangan kanan masih aku pakai jam tangan hitam yang menunjukkan pukul 7.15
tetap, juga gelang kaki pemberian ibuku saat aku berumur 18 tahun, gelang kaki
yang cukup besar untuk dipakai, tapi karna ini pemberian ibuku, aku tetap
memakainya.
Aku tinggal bersama
Nenek di rumah kecil, aku sendiri tidak tahu nama nenekku, orang-orang
memanggilnya bi’yem, aku tak tahu pasti umurnya, tapi dulu dia sering bercerita
tentang orang-orang dan jajahan jepang, ibu nenek mati ditembak orang jepang
dan tinggal hanya dengan ayahnya yang sering mengajak dia bersembunyi,
sampai-sampai dia pernah bersembunyi didalam pembuangan kotoran, tak bernafas
selama beberapa menit didalam air bercampur kotoran manusia. terkadang dia
bersembunyi di gua dan tidur disana saat orang-orang jepang mencari penduduk
pribumi. Dan sekarang wajahnya diwarnai dengan keriput-keriput coklat dengan
bintik-bintik hitam, untuk jalan saja dia meminta tolong kepada sedepa kayu,
itupun masih tertatih-tatih.
ayahku pergi bekerja
jauh tidak tahu dimana dia, tak pernah tahu kabarnya, tetapi dia masih hidup,
karna aku sering menemuinya dalam mimpiku, dia tertawa sangat keras membuat aku
takut dan aku menjerit, setelah aku menjerit dia pasti diam dengan matanya
menatapku tajam, aku ikut diam dan terkadang aku menangis, setiap kali aku
bertemu ayahku itu didalam mimpiku. Sedangkan ibuku aq sendiri tidak tahu
dimana dia berada, terakhir kali dia pulang dengan membawa anak kecil yang
menangis sangat keras ketika melihatku, aku tidak tahu anak siapa itu, akupun
malah berteriak-teriak karna aku membenci tangisan ataupun suara yang sangat
keras. Tidak ada satu jam ibuku pergi tak menyapaku, aku hanya melihat diteras
rumah yang sangat panas ini.
‘ini makanlah nasi ini,
sudah seharian kamu belum makan’ sesosok wanita tua menyuruhku makan, aku tak
menjawab ucapan nenekku, aku sudah malas menjawabnya, tiap aku bangun pasti
disuruhnya makan, dan perkataanya sama, saat pagi dia selalu berkata belum
makan seharian, mungkin sudah tua dan tolol, sampai aku bosan mendengar
ocehannya tiap pagi. Tetapi terkadang aku makan nasi itu kala aku sangat lapar,
tetapi juga aku biarkan bersama lalat-lalat yang lebih lapar dari pada aku.
Pagi ini cukup ramai,
tak seperti kemarin-kemarin, anak-anak kecil bermain di jalan depan halaman
rumahku, ada lima anak kecil memandangiku cukup tajam dengan tangannya
diacungkan keatas, aku tidak tahu apa yang mereka katakana kepadaku, aku tak
peduli dengan itu, aku sibuk melihat kancing bajuku yang lepas dan berusaha
menempatkannya pada tempatnya, dan pada akhirnya aku tak bisa melakukannya,
masa bodoh. Dua kerikil kecil bergulir didepanku, aku lihat anak-anak kecil
tadi melempariku dengan batu itu, aku paling benci melihat anak kecil, apalagi
pada pagi hari seperti ini, ingin aku lempari dengan batu-batu yang besar, tapi
aku malas mengambilnya, jadi aku teriyaki saja mereka dengan suaraku yang kata
nenek sangat keras, dua, tiga, empat kali teriakan makianku tak membuat mereka
jerah, aku berteriak sekali lagipun mereka tetap berada didepan sana, aku
benar-benar marah, mereka tidak tau emosiku sangat besar hari-hari ini,
persetan dengan mereka semua.
Dua cowok berdiri
didepan teras rumah, sangat terlihat jelas wajah mereka. Mereka membicarakan
sesuatu dengan melihat ke arahku, dan kemudian mereka tertawa. Satu diantara
mereka mendatangiku, sangat tampan memang cowok ini, dengan jelana jeans
memakai kaos hitam dengan kulit sawo matangnya, aroma parfumnya kalah dengan
asap rokok yang dibawahnya. ‘siapa namamu?’ tanyanya tak sadar aku dia sudah
ada didepanku, aku diam saja takut melihat wajahnya! ‘siapa namamu?’ tanyanya
lagi dengan nada yang tinggi yang membuatku semakin takut, aku masih diam dan
memegangi tiang rumahku yang terbuat dari kayu. ‘kau bodoh ya, kasian kamu’
nadanya sangat jelas meski dengan tertawa dia berbicara seperti itu. Aku
pegangi kayu penyangga itu dengan eratnya. Dia berdiri dan berbalik sambil
tertawa meninggalkanku ‘bodoh, bodoh, bodoh’ tawanya mendekati temannya yang
masih berdiri diluar sana.
Apakah aku bodoh?
Kenapa aku tak menjawab pertanyaannya dan malah merasa takut! Aku bingung
dengan semua ini. Tapi dia yang bodoh, tak sopan dan langsung menanyaiku, emosi
juga pada pertanyaan yang keduanya. Tapi seharusnya aku tak takut dan
menjawabnya, atau lebih baik aku meneriakinya ketika dia berkata bodoh. Tuhan
mempunyai banyak ilmu, tapi tidak diberikannya kepadaku, aku berfikir kembali
mungkin Tuhan tidak berilmu dan tak mampu memberikan ilmunya kepadaku. Ah masa
bodoh, yang bodoh bukanlah aku. Dia yang bodoh, menanyaiku dengan nada seperti
itu, tak punya sopan santun, sudah begitu langsung menyerah, dasar cowok
pengecut , setan brengsek!
‘hei namamu siapa?’ aku
terkejut dan mengeratkan tanganku serta memeluk tiang itu, cowok kedua tepat
dihadapanku memecahkan lamunanku. ‘hei.. kenapa kamu terkaget, gak usah takut!’
dia masih berusaha mendapatkan namaku dengan sopannya. Tetapi aku masih takut,
semua cowok itu sama saja. ‘kenapa kamu takut?’ aku diam tak menjawab, beberapa
detik dalam keheningan. ‘hei cantik, nama kamu siapa?’ ‘kenapa tidak dijawab?’
‘kamu takut apa?’ ‘kenapa kamu diam saja?’ ‘halllo heii namamu siapa?’. Semakin
ditanya aku semakin bingung, aku benci dengan bualan-bualan, maksa terus dengan
pertanyaannya yang gak jelas apa maksudnya. ‘pergi, pergi, pergi,
haaaaaaaaaaaaaa’ aku teriaki cowok ini yang semakin membuat aku bingung. ‘dasar
bodoh week, gila, bodoh,hahahaha’ tertawanya dia meledekku dan berjalan kearah
temannya akupun masih terus menghujaninya dengan teriakanku itu.
Aku memang membenci
semua cowok-cowok, bahkan aku sekarang membenci ayahku. Semua cowok memang
bangsat, bajingan, preman semua, mata keranjang, najis, munafik, tolol, bego,
politik, lidah anjing, jancok, taik, pokoknya semua kejelekan ada di cowok, kenapa
gak cewek saja yang diciptakan kebumi, kenapa bukan hawa saja, kenapa harus
adam yang dengan nafsunya menginginkan cewek, seandanyai hawa saja, aku yakin
dia bisa mengontrol nafsunya, dan tak menginginkan manusia cowok didunia, yang
kerjaanya hanya nafsu saja, uang dan seksual, merampok, mencuri, korupsi dan
memperkosa.
Teringat para bajingan
merobek bajuku saat malam itu, lima orang dengan wajh kepulan asap-asap anjing
menganiayaku dengan nafsu yang membara, memasukkan kelaminnya ditempat yang
takseharusnya, aku hanya bisa menangis sakit dengan darah. Tertawa saja mereka
saat tubuhku takkuasa lagi karna terlalu capek berontak. para bajingan-bajingan
tak tahu ayat-ayat Tuhan yang tak suci lagi, para bajingan memang tak bermoral.
Itulah kenapa aku sangat membenci bajingan-bajingan yang mereka itu adalah
cowok semua, dan membuat kondisiku seperti ini, terkadang aku tak mengerti
apa-apa dengan tertawa mereka, tertawa anak-anak kecil yang seringnya
melempariku, tertawanya ibu-ibu yang melewati halaman rumahku, tertawanya para
bajingan termasuk dua bajingan itu tadi.
Manusia-manusia itu tak
mampu memahami diriku, itu memang salah diriku yang takmampu memahami mereka.
Aku benci tapi persetan dengan mereka,
meskipun mereka baik memberiku minuman dingin tapi mereka menyiramkan
diwajahku, mereka tahu aku takkan marah, aku sangat sabar dengan diamku, mereka
juga tahu jika aku teriak itu hanyalah teriakan dan mereka menyadari hanyalah
ketidak sengajaan jika air dingin itu tersiram di wajahku. Baiknya mereka para
lelaki-lelaki bajingan tekadang membantuku menggaruk pantatku atau dadaku yang
gatal, baiknya ibu-ibu yang sering memandikan aku dengan guyuran air langsung
saat aku teriak-teriak, aku sangat senang adanya mereka, terkadang aku sendiri
bingung dengan kenapa mereka baik, kenapa merek tertawa-tawa melihatku. Kata
mereka aku cantik, ya aku memang cantik, saat aku masih sekolah aku selalu
menjadi pujaan para cowok-cowok satu sekolah, aku selalu menjadi putri saat ada
pementasan drama. Terimakasih para ibu-ibu yang baik, anak-anak yang suka
mengajakku bermain kelereng, terimakasih juga kepada para bajingan yang sering
membantuku menggaruk-garuk tubuhku.
***
Pagi ini sangat cepat
berjalan, saya rasakan Cuma dua jam saja, tetapi matahari sudah hilang, mungkin
mendung atau terlalu cepat waktu dan mau kiamat, seperti apa yang diceritakan
buku saat aku smp, tanda kiamat salah satunya cepatnya waktu berjalan, tapi aku
tidak pernah sholat, aku sendiri lupa caranya, tak tau lagi arah kiblat, yang
aku lakukan hanyalah melihat manusia-manusia dengan kesibukan mereka lalu
lalang didepan rumahku.
Lampu sudah menyala
semua, aku takut malam, aku benci, aku ingin teriak sepanjang mala mini, aku
ingin berteriak sampai ada wanita yang mendatangiku, tak perlulah dia mengajak
aku berbicara, cukup dengan memarahiku saja aku sangat senang, biar mereka tahu
ada aku disini, aku memandangi mereka, dan mereka harus memandangiku. Aku ingin
adanya teman, aku ingin orang menganggapku ada.
Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,
haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, cowok bajingan, haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,
bangsat kalian semuaaaaaaaaaaa, kau lupa dengan kitab berdebu karya tuhanmu
yang kalian tulis ulang, bansaaaaaaaaaaaaaattttt, bajingan.
***
aneh tapi kena.... kena, kena, kenaaaa..........
BalasHapus