Rabu, 06 Juni 2012

kotak kecil-angin berbisik#2

berdansa bersama keabadian kita terlalu naif untuk hidup, yang diingikan manusia adalah keabadian, berfikir tidak pernah puas dengan segala yang ada, tidak dapat dipungkiri, kita, kamu, aku dan mereka pasti tak mau kematian datang cepat, selalu takut dengan hal itu. 'aku ingin hidup seribu tahun lagi' ungkapan yang cukup mewakili keinginan manusia telah dicetuskan chairil anwar. film-film fiksi dengan tokoh antagonis sering pula menginginkan keabadian. manusia seperti tertidur dalam mimpi-mimpi keegoan dan tak pernah ingin kembali bangun. kita akan lebih senang diceritakan tentang keindahan yang kita alami, tapi kita lebih suka menceritakan keburukan yang kita alami. Jika manusia ini hidup tanpa ada rasa cinta, mungkin manusia takkan ada, betapa kuasa Tuhanmu menciptakanmu dan memberikan sifat-sifat terbaiknya untuk saling mengerti sesama manusia. Antara keindahan, kejelekan, kematian, cinta, dan saling membutuhkan akan tetap dan terus membayangi mimpi-mimpi kita, dan semoga kau akan terbangun dengan dari mimpi-mimpi itu dan menemukan jawaban untuk bangunmu.

ketika aku terbangun dari mimpi-mimimpi beserta kekonyolannya, aku terbangun dan mencuci mukaku, berdo'a kepada Tuhan agar aku selalu ada untukNya,  tak perduli ada untukku atau tidak, yg terpenting aku ada untukMu Tuhan. aq melirik jam yang aq sadari aku terlambat bangun, mentari sudah tak malu lagi untuk menatapku tajam-tajam, anginpun membawa sarapan dengan tak sopannya memasuki hidungku, warna mata yang masih memerah didepan kaca menghiasi rutinitas pagiku, wira sudah berjilbab coklat dengan bajunya yg sudah rapi, menonton tv dengan semangatnya yang mampu aku contoh. Meniti jalan lurus ke dapur, ibuku yang sedang memasak dengan riangnya menggoreng ikan-ikan yang dia dapat dari pasar pagi yang sangat ramai. Sarapanpun kita lakukan dengan asap nasi yang masih mengepul dipiring. habis sudah energi yg dituangkan dipiring-piring itu, dan kini beranjak menjadi energi yang bisa di manfaatkan. Dengan mencium tangan ibu dan tanganku, Wira bergegas pergi dengan tas ranselnya yg menemaninya, dengan sepatunya yang berwarna merah kotor menandakan anak ini tak bisa duduk diam. Berjalanlah dan gapai prestasi yang kau mau kau boleh nakal asal kau mengerti arti dari kenakalanmu itu.

sebelum sekolah terlambat, siblue menatapku dengan tajam, dengan suaranya yang khas, akupun beranjan meninggalkan ibuku dengan kecupanku ditangannya. Berlarilah kita dengan tiga temanku dan motor-motornya. sudah memasuki plajaran kita baru sampai di sekolahku, terlambat 3 menitan dan menjadi rutinitas harian kita, tanpa hukuman dan tanpa dendaan, hanya sapaan dari mulut guru BP yg berantakan. Acuh tak-acuh kita dengannya, memang hukum dinegara ini sangat lemah, aku pelajar SMK sangat mengerti itu.

Aku terasa sangat diciumi oleh rasa ngantuk dipelajaran pertama pagi ini, pelajaran yang cukup membosankan bagi aku dan teman-temanku, sesekali melihat keluar kelas tanda kebosanan dengan pelajaran pagi ini, banyak juga teman-teman keluar dengan izinnya ke toilet, terkadang aku tak bisa membedakan antara toilet dengan kantin!

nafas tersendal melihat permukaan tanah yang tak rata, melihat langit yang menghitam, melihat pohon yang terbalik. Adalagi teringat kekacauan yang terjadi dua bulan yang lalu, pecah sudah kanvas kembang merah yang aku beli dengan ika, hal itu membuatku tersudut tak bisa bicara dengannya meskipun sembilan bulan lamanya kita saling mengerti menjaga kanvas itu dan membesarkan kembangnya, tak mengerti tentang hidup! Kembng itu layu dan kanvas pecah. Meraskannya aku tak mau melihat ika dalam kejauhan, mau menghapus dalam-dalam dia dalam hatiku. teringat dengan kotak yang dia berikan kepadaku,  tapi aku tak diperbolehkan membukanya, menunggu hingga kanvas benar-benar pecah. Dengan kepercayaanku yang aku berikan kepadanya aq berkata lirih 'kanvas ini tidak akan pecah'. Dia masih ngotot tak memperbolehkan aku membukanya.

'woe.....' sapaan barok mengacaukan lamunanku saat istirahat sekolah tiba. Dia mengajakku ke kantin yang aku sendiri berfikir antara toilet dan kantin adalah sama. Dia memesan soto yang biasa kami makan, aku duduk melihat kondisi kantin ini yang semakin rapuh, dengan warna birunya yang semakin memudar, takkuat diberi beban-beban makanan ringan yg menghiasinya, disudut dalam ada kompor dengan apinya spesial untuk soto dan mie instan untuk dibeli, disudut lain ada keran air, ruangan yang hanya cukup untuk dua orang, satu pemilik dan satu yang membantunya, tapi kita selalu mondar-mandir masuk ke tempat itu. Mulai sudah soto-soto menghujani mulut si barok dengan matanya yang sipit tp tajam kalau melihat cewek-cewek cantik. Dia menyuruhku memesan makanan tp aq hanya meminum es yang cukup membantu menghilangkan haus untuk beberapa saat.

disudut sekolah lain (sekolahku berada dalam lembaga, tapi dalam jam pagi hanya ada 4 sekolah yang masuk), sekolah Madrasah Aliyah (setara dengan SMA) terlihat jelas mereka baru keluar dari ruang kelas, kita memang ke kantin sebelum jam istirahat, tak perduli karna guru sudah selesai memberikan celoteh-celotehnya. terlihat ika berjalan menuju kantin, dan aku lebih tak perduli menganggap sesuatu tidak terjadi, bahkan kita seperti tak saling kenal, bahkan dari dulu sebelum kanvas kembang itu pecah sifat kita disekolah selalu begitu. 'Kau ini aneh, kenapa tak pernah kau sapa dan tak pernah berucap selamat pagi atau apa' barok curhat dengan kata-katanya untukku. Aku dan dia mempunyai cara yang berbeda dalam merawat vas kembang, biarpun orang berfikir apa, aku tak peduli, ini jalan hidup kita, antara belajar dan cinta adalah hal yang sama tapi untuk dijalani dalam waktu yang berbeda. Tak perlu aku menjawab apa yang dikatan barok itu, cukuplah aku memahami apa maksudku.

Aku tau masalahku ini akan menjadi sangat rumit, aku tau juga kita masih saling cinta, aku tau kita akan berpisah dengan jalan yang sakit, tp aku tak tau apa yang ada dalam kotak kecil itu! melirikpun kita tak saling mau kala itu, tapi kita saling menginginkan, langit ini semakin mendung saja tapi bercahaya dan panas! aku menginginkan kembali ke kelas dan menyuruh barok untuk cepak dalam melahap soto yang berwarna merah pedas itu. Diapun tau aku ada masalah, lebih baik diam bagiku daripada teman ikut menanggung beban.

dan sampai sekarang kotak kecil itu aku tak tau apa isinya, dengan keegoan aq ingin tau, dengan kegoan pula dia memaksaku jangan membukanya! kaulah kunci dari jawaban yang memang tak bisa bernyanyi, lelah aku dan sangat ingin aku lupakan hal itu, tak bis memang aku intip dan aku lihat. yang aku bisa rasa adalah suatu kebohongan bahwa sebenarnya kotak itu tak benar-benar ada. atau mungkin ada tapi kamu tak mau mengakuainya! Sebenarnya kotak ini sudah kau berikan, tapi kenapa kau tak nampakkan kepadaku, dan kau tak bisikkan jawabanya, kaupun tersenyum lirih dengan sikap barumu kala vas itu pecah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar