berdansa bersama keabadian kita
terlalu naif untuk hidup, yang diingikan manusia adalah keabadian, berfikir
tidak pernah puas dengan segala yang ada, tidak dapat dipungkiri, kita, kamu,
aku dan mereka pasti tak mau kematian datang cepat, selalu takut dengan hal
itu. 'aku ingin hidup seribu tahun lagi' ungkapan yang cukup mewakili keinginan
manusia telah dicetuskan chairil anwar. film-film fiksi dengan tokoh antagonis
sering pula menginginkan keabadian. manusia seperti tertidur dalam mimpi-mimpi
keegoan dan tak pernah ingin kembali bangun. kita akan lebih senang diceritakan
tentang keindahan yang kita alami, tapi kita lebih suka menceritakan keburukan
yang kita alami. Jika manusia ini hidup tanpa ada rasa cinta, mungkin manusia
takkan ada, betapa kuasa Tuhanmu menciptakanmu dan memberikan sifat-sifat
terbaiknya untuk saling mengerti sesama manusia. Antara keindahan, kejelekan,
kematian, cinta, dan saling membutuhkan akan tetap dan terus membayangi
mimpi-mimpi kita, dan semoga kau akan terbangun dengan dari mimpi-mimpi itu dan
menemukan jawaban untuk bangunmu.
ketika aku terbangun dari
mimpi-mimimpi beserta kekonyolannya, aku terbangun dan mencuci mukaku, berdo'a
kepada Tuhan agar aku selalu ada untukNya, tak perduli ada untukku atau
tidak, yg terpenting aku ada untukMu Tuhan. aq melirik jam yang aq sadari aku
terlambat bangun, mentari sudah tak malu lagi untuk menatapku tajam-tajam,
anginpun membawa sarapan dengan tak sopannya memasuki hidungku, warna mata yang
masih memerah didepan kaca menghiasi rutinitas pagiku, wira sudah berjilbab
coklat dengan bajunya yg sudah rapi, menonton tv dengan semangatnya yang mampu
aku contoh. Meniti jalan lurus ke dapur, ibuku yang sedang memasak dengan
riangnya menggoreng ikan-ikan yang dia dapat dari pasar pagi yang sangat ramai.
Sarapanpun kita lakukan dengan asap nasi yang masih mengepul dipiring. habis
sudah energi yg dituangkan dipiring-piring itu, dan kini beranjak menjadi
energi yang bisa di manfaatkan. Dengan mencium tangan ibu dan tanganku, Wira
bergegas pergi dengan tas ranselnya yg menemaninya, dengan sepatunya yang
berwarna merah kotor menandakan anak ini tak bisa duduk diam. Berjalanlah dan
gapai prestasi yang kau mau kau boleh nakal asal kau mengerti arti dari
kenakalanmu itu.
sebelum sekolah terlambat, siblue
menatapku dengan tajam, dengan suaranya yang khas, akupun beranjan meninggalkan
ibuku dengan kecupanku ditangannya. Berlarilah kita dengan tiga temanku dan
motor-motornya. sudah memasuki plajaran kita baru sampai di sekolahku,
terlambat 3 menitan dan menjadi rutinitas harian kita, tanpa hukuman dan tanpa
dendaan, hanya sapaan dari mulut guru BP yg berantakan. Acuh tak-acuh kita
dengannya, memang hukum dinegara ini sangat lemah, aku pelajar SMK sangat
mengerti itu.
Aku terasa sangat diciumi oleh rasa
ngantuk dipelajaran pertama pagi ini, pelajaran yang cukup membosankan bagi aku
dan teman-temanku, sesekali melihat keluar kelas tanda kebosanan dengan
pelajaran pagi ini, banyak juga teman-teman keluar dengan izinnya ke toilet,
terkadang aku tak bisa membedakan antara toilet dengan kantin!
nafas tersendal melihat permukaan
tanah yang tak rata, melihat langit yang menghitam, melihat pohon yang
terbalik. Adalagi teringat kekacauan yang terjadi dua bulan yang lalu, pecah
sudah kanvas kembang merah yang aku beli dengan ika, hal itu membuatku tersudut
tak bisa bicara dengannya meskipun sembilan bulan lamanya kita saling mengerti
menjaga kanvas itu dan membesarkan kembangnya, tak mengerti tentang hidup!
Kembng itu layu dan kanvas pecah. Meraskannya aku tak mau melihat ika dalam
kejauhan, mau menghapus dalam-dalam dia dalam hatiku. teringat dengan kotak
yang dia berikan kepadaku, tapi aku tak diperbolehkan membukanya,
menunggu hingga kanvas benar-benar pecah. Dengan kepercayaanku yang aku berikan
kepadanya aq berkata lirih 'kanvas ini tidak akan pecah'. Dia masih ngotot tak memperbolehkan
aku membukanya.
'woe.....' sapaan barok mengacaukan
lamunanku saat istirahat sekolah tiba. Dia mengajakku ke kantin yang aku
sendiri berfikir antara toilet dan kantin adalah sama. Dia memesan soto yang
biasa kami makan, aku duduk melihat kondisi kantin ini yang semakin rapuh,
dengan warna birunya yang semakin memudar, takkuat diberi beban-beban makanan
ringan yg menghiasinya, disudut dalam ada kompor dengan apinya spesial untuk
soto dan mie instan untuk dibeli, disudut lain ada keran air, ruangan yang
hanya cukup untuk dua orang, satu pemilik dan satu yang membantunya, tapi kita
selalu mondar-mandir masuk ke tempat itu. Mulai sudah soto-soto menghujani
mulut si barok dengan matanya yang sipit tp tajam kalau melihat cewek-cewek
cantik. Dia menyuruhku memesan makanan tp aq hanya meminum es yang cukup membantu
menghilangkan haus untuk beberapa saat.
disudut sekolah lain (sekolahku
berada dalam lembaga, tapi dalam jam pagi hanya ada 4 sekolah yang masuk),
sekolah Madrasah Aliyah (setara dengan SMA) terlihat jelas mereka baru keluar
dari ruang kelas, kita memang ke kantin sebelum jam istirahat, tak perduli
karna guru sudah selesai memberikan celoteh-celotehnya. terlihat ika berjalan
menuju kantin, dan aku lebih tak perduli menganggap sesuatu tidak terjadi,
bahkan kita seperti tak saling kenal, bahkan dari dulu sebelum kanvas kembang
itu pecah sifat kita disekolah selalu begitu. 'Kau ini aneh, kenapa tak pernah
kau sapa dan tak pernah berucap selamat pagi atau apa' barok curhat dengan
kata-katanya untukku. Aku dan dia mempunyai cara yang berbeda dalam merawat vas
kembang, biarpun orang berfikir apa, aku tak peduli, ini jalan hidup kita,
antara belajar dan cinta adalah hal yang sama tapi untuk dijalani dalam waktu
yang berbeda. Tak perlu aku menjawab apa yang dikatan barok itu, cukuplah aku
memahami apa maksudku.
Aku tau masalahku ini akan menjadi
sangat rumit, aku tau juga kita masih saling cinta, aku tau kita akan berpisah
dengan jalan yang sakit, tp aku tak tau apa yang ada dalam kotak kecil itu!
melirikpun kita tak saling mau kala itu, tapi kita saling menginginkan, langit
ini semakin mendung saja tapi bercahaya dan panas! aku menginginkan kembali ke
kelas dan menyuruh barok untuk cepak dalam melahap soto yang berwarna merah
pedas itu. Diapun tau aku ada masalah, lebih baik diam bagiku daripada teman
ikut menanggung beban.
dan sampai sekarang kotak kecil itu
aku tak tau apa isinya, dengan keegoan aq ingin tau, dengan kegoan pula dia
memaksaku jangan membukanya! kaulah kunci dari jawaban yang memang tak bisa
bernyanyi, lelah aku dan sangat ingin aku lupakan hal itu, tak bis memang aku
intip dan aku lihat. yang aku bisa rasa adalah suatu kebohongan bahwa
sebenarnya kotak itu tak benar-benar ada. atau mungkin ada tapi kamu tak mau
mengakuainya! Sebenarnya kotak ini sudah kau berikan, tapi kenapa kau tak
nampakkan kepadaku, dan kau tak bisikkan jawabanya, kaupun tersenyum lirih
dengan sikap barumu kala vas itu pecah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar