kala itu waktu sudah menunjukkan jam 1 siang, waktunya para pelajar SMA pulang kerumah mereka masing-masing, tak teringat pasti tentang apa-apa yang telah dikatakan guru ketika disekolah tadi. makan siang dan istirahat adalah tujuan utama mereka selanjutnya, yang kadang itupun tak terlaksana demi berkumpulnya teman dan bermain, Atau ada juga yang pergi ngopi dengan mengepulkan asap-asap ketenangan yang dapat memuaskan ketenangan mereka, ada juga yang langsung menyewa playstation tanpa ingat makan dan ganti baju, didalam kesibukan dan kesenangan mereka masing-masing, mereka sendiri tidak peduli dengan kondisi yang ada diluar, aspal hitam seperti berapi dan penuh fatamorgana, mata hari meniup-niup angin panas, debu-debu tak kuasa mengikuti tarian yang diciptakan angin-angin matahari, dan bahkan didalam rumahpun masih bisa merasakan hawa panas yang tersenyum lebar.
kubuka kembali kamarku, kamar kecilku tak lebih dari 2,5x2 dengan warna hijau ketenangan yang aku pasang didalamnya, berhembus angin yang sangat sejuk dari warna yang memang diciptakan untuk kesejukan berusa mencampuri ketidak ketenanganku siang ini, dengan sedikit melupakan makanan yang sudah disiapkan oleh ibu yang tercinta, sudah juga aku melupakan seragamku yang pasti masih menggeluti tubuhku yg penuh keringat. tak cuci muka dan bergegas tak sadar diri.
aku menemukan kau disusut jalan terdiam kaku menggigil tak tau apakah kau kedinginan di siang yang cukup panas ini, duduk dengan mengapitkan kepalamu diantara kedua lututmu, baju sekolahmu kusut dan kotor, aku panggil namamu dari kejauhan, aku yakin meski kau mendengar kamu akan menoleh kearah berlawanan terhadapku, kau sadar keadaanmu tak mau ditemui, bahkan aku yang lebih kau kenal dari pada kau mengenal keluargamu. berjalan menghampirimu secara perlahan dengan desah nafasku yang aku dengar sendiri. Aku semakin bingung melihat kamu yang kacau, terdengar secara perlahan dari kejauhan kau menangis mendesah. Entah kenapa siang ini terlihat sepi tanpa adanya manusia-manusia lain dihadapanku, jalan hanya ada debu-debu berangin. hanya kita manusia dalam siang yg panas yang mematikan matahari sendiri.
aku sadari aku mendengar nyanyian dari kejauhan dan itu sangat pelan, aku berhenti sejenak aku kira itu adalah orang yang memanggilku, musik-musik terdengar adalah musik jawa kuno dengan suara sindennya yang biasanya digunakan dalam pementasan wayang. Jam tangan menunjukkan jam 2 siang tepat, aku mulai ragu apakah aku akan meneruskan langkahku menemuimu yang kaku dengan tangisan. Aku sangat takut, melihatmu dengan keadaan seperti itu, dengan angin-angin panas yang menampar-nampar tubuhku, dengan suara-suara sinden disampingku.
demi melihatmu demi ingin mengetahui kenapa kamu, dengan keraguan akupun berlari kearahmu. Sebelum utuh menyentuhmu, aq mencium aroma alkohol yang tajam, aku berhenti sejenak dan memandangimu dalam-dalam dengan jarak 5 meter kita. dibawah tubuhmu air merah tanpa gula menggenang bebas membasahi bajumu itu, suara tangisanmu tak aku dengar lagi, suara sinden itupun berhenti dan berubah menjadi suara tawaan yang luar biasa, tak satu atau dua orang yang aku dengar, mungkin lima, enam, atau bahkan sepuluh. Tubuhku takbisa bergerak ketakutan, aq menoleh mencari sumber suara itu tanpa pedulikanmu, tak ada sumber yang jelas suara-suara itu berasal darimana, kanan kiri adalah sama.
aku menjadi ingin menangis, didepan masjid dan kita berada disudut jalan, kau masih dengan posisi yang seperti itu, kulangkahkan lagi kaki-kakiku, aku panggil namamu dengan pelan memastikan semuanya tak apa-apa, warna merah itupun mengalir dan membasahi kaki-kakiku. 'kau berdarah' kataku untuk mendapatkan perhatian darinya. dia kembali menangis dan aq tak tau apa yang harus aku lakukan, aku pegang rambutnya yang lusuh berdebu yang aku tau karna dia terlalu lam duduk disini. 'tidak apa-apa ayo kita pulang, aku akan mengobatimu' kataku untuknya. Dia masih terdiam dengan tangisannya. Akupun mencoba mengangkat tubuhnya yang kecil.
satu, dua, tiga tusukan pisau menusuk diperutnya dan didadanya, dengan pisau yang masih menempel dibagian-bagian itu, aku tak mengerti kenapa dia tertusuk seperti ini dan dia bisa bertahan selama ini. Darah masih terus keluar dari tubuhnya. tangan kirinya aku sampingkan dipundakku dan tangan kananku melewati punggungnya dan mengambil ketik kanannya untuk mengangkatnya. Dalam posisi berdiri dia tetap diam dan sorot wajahnya masih dia jatuhkan ketanah. Angin bertiup semakin kencang, membawa debu-debu yang panas di musim matahari ini, takku temui satu orangpun untuk meminta bantuan membawanya kerumah sakit. 'ayo berdiri, tidak apa-apa ayo kita pulang, aku akan mengobatimu'.
warna merah ini telah membasahi seluruh celanaku hingga kakiku. bajuku sebagian terkena warna ini. Aku berjalan kearah rumahnya dengan posisi yang sama, baru sembilan langkah sekarang dia yang berhenti, aku takut apa-apa terjadi padanya. akupun takut melihat ekspresi wajahnya, dia masih diam dan semakin berat, tak mau berjalan pulang dan mengobati lukanya. itu yang aku tau dari dirinya 'ayo kita pulang, aku akan mengobatimu' aku berucap lagi dengan suara pelan untuknya. Dia bergerak, dengan langsung aq melihatnya yang masih aku bawa disebelah kananku.
digerakkan kepalanya secara perlahan, mencoba menatapku. kulihat mata yang berdarah dan diaberucap lirih 'tiga kali kau mengucapkan hal yang sama dan kau tak mampu melakukannya, kau bahkan tak mengetahui kemampuanmu, dan kau tak mengerti dirimu, dan bahkan kau sekarang sebenarnya berda dalam tangisan yang kau sendiri tak mau mengerti'. Dia kemudian berdiri sendiri dan mencabut tiga pisau ditubuhnya, selanjutnya dia menusukku dengan pisau-pisau itu. Aku melepaskannya yang sebenarnya dia melepaskanku.
Dia dengan darh berlari meninggalkanku, semakin jauh dan semakin jauh, diamenghilang dalam fatamorgana aspal siang itu. Kini aku tak bisa bergerak dan menikmati warna merah ini menutupi tubuhku. aku sadar bahwa dia adalah aku.
aku sendiri tak mengerti, kenapa ada dua aku, dan dia adalah aku, dia atau aku yang menangis, dia atau aku yang berlari, dia atau aku yang tertusuk, aku dan dia memang aku.
aku terbangun dari tidur siangku yang cukup panjang dengan tangisan yang ada dimataku, aku memandangi kaca dan berfikir 'aku adalah aku yang aku rasa, aku hidup dalam kebohongan yang mendatar, bahkan aku sendiri membenci aku'. dari kejauhan ibu berbicara 'mimpimu adalah hal yang sangat jujur kepadamu, cuci mukamu dan makanlah makan siangmu'.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar