Bersandarkan
bantal kecil aku mulai mengingat awal bertemu, mengingat kapan kala itu aku
tahu namanya, mulai mengirim sms dengannya. Berujar cinta kepadanya, berpacu
dalam kebisingan hidupnya. Mengingat juga kala kita saling menjauh, menghindar,
dan lupa segalanya. Tapi dalam lupa itu kita saling mengingat sesuatu, dan
merasakan sakit yang kita saling tak mengetahui satu sama lain apakah sakit itu
ada!
Tanganku
menyentuh sepotong kertas putih di kasurku, masih putih tak ada coretan apapun,
tak kusut dan terlihat masih baru, tersenyum aku melihatnya, setidaknya ada
yang bisa aku lakukan dengan kertas kecil itu dari pada hanya melamun kelam.
“angsa” satu kata hewan yang terbesit dipikiranku, mulailah aku lipat
diagonal-diagonal beberapa kali dan lipatan yang lainnya, ingin membuat origami
angsa yang aku suka, tak repot ternyata dan aku masih sangat ingat dalam
membuat ini.
Tak
ada 1 menit angsa itu bertahan, aku ingin membuat perahu kertas. Pertamanya
tentu aku lepas dahulu bagian-bagian lipatan yang membentuk angsa kecil,
perlahan tapi pasti yang aku lakukan agar tidak menyobek kertas itu. Setelah
semua lipatan telah aku lepas, dan menjadi keutuhan kertas tadi, tidak tahu
mengapa aku urungkan niatanku untuk membuat perahu kecil itu. Beberapa detik yang
cukup lama aku gunakan untuk memandangi kertas itu, sadar dalam lamunan yang
telah aku lakukan. Dan ingin aku pandang dan terus aku pandang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar